Bepergian

Senja Kala Toko Buku UI: Dulu Diburu Mahasiswa, Kini Menanti Pembeli di Gang Sepi

Aug 14, 2026 IDOPRESS

DEPOK, iDoPress - Gang kecil selepas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Stasiun Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, tampak lengang siang itu.

Deretan toko yang dulu ramai kini banyak yang tutup. Hanya beberapa toko makanan, minuman, dan aksesori yang masih bertahan menjajakan dagangannya.

Di tengah deretan toko yang semakin sepi, dua toko buku masih berdiri.

Tumpukan buku memenuhi bagian dalam toko hingga teras. Sebagian buku tampak telah lama tersimpan, menunggu pembeli yang datang. Salah satunya adalah Toko Buku Jenny.

Pemilik Toko Buku Jenny, Rahidin Manullang (59), masih bertahan di tengah kondisi tersebut. Dari tokonya, ia menyaksikan satu per satu toko buku di sekitar UI tutup.

"Di sini, dari sini ada 10 dulu. Sekarang tinggal dua. Tutup semua baru-baru ini," ujar Wahidin saat ditemui iDoPress di tokonya, Depok, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 10 toko buku yang dulu berjejer di kawasan tersebut menjadi bagian dari ramainya aktivitas mahasiswa.

Buku kuliah, buku referensi, hingga buku-buku yang menjadi kebutuhan mahasiswa mudah ditemukan di sana.

Kini, pemandangan itu berubah. Toko-toko yang sebelumnya menjadi tempat mahasiswa mencari buku sudah banyak yang tutup.

Sebagian pedagang, kata Rahidin, memilih tidak lagi menyewa tempat dan membawa buku-buku mereka ke rumah untuk dijual secara daring. Rahidin pun sebenarnya berencana melakukan hal serupa akhir tahun ini.

Dari Senen hingga Bertahan di Sekitar UI

Rahidin bukan orang baru dalam bisnis buku. Sejak muda, ia sudah berjualan buku.

Sebelum membuka Toko Buku Jenny di sekitar kampus UI sekitar lima tahun lalu, ia lebih dulu berjualan di kawasan Senen, Jakarta Pusat dan Stasiun Pondok Cina, Depok.

Kala itu, berjualan buku masih menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Ketika pindah ke kawasan UI, kondisi toko juga masih cukup baik. Mahasiswa menjadi pembeli utama, terutama ketika memasuki tahun ajaran baru.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik perubahan. Ketika perkuliahan beralih ke sistem pembelajaran daring, mahasiswa tidak lagi datang ke kampus seperti sebelumnya. Kebutuhan membeli buku fisik pun ikut menurun.

"Di sini sebelum Covid bagus, mahasiswa masih banyak yang beli buku. Setelah Covid itu karena belajar di rumah, online, jadi langsung turun," kata Rahidin.

Penurunan tersebut dirasakan sangat tajam. Sebelum pandemi, omzet toko Rahidin bisa mencapai sekitar Rp 2 juta dalam sehari.

Ketika memasuki tahun ajaran baru, pendapatannya bahkan bisa lebih besar karena mahasiswa biasanya membeli beberapa buku sekaligus.

Satu mahasiswa bisa membeli dua hingga lima buku dalam sekali datang. Buku untuk berbagai jurusan, mulai dari hukum, ilmu sosial dan politik, sastra hingga matematika dan ilmu pengetahuan alam, dulu masih banyak dicari.

Namun kini, situasinya jauh berbeda. Untuk mendapatkan omzet Rp 1 juta dalam sebulan saja, Rahidin mengaku tidak selalu berjalan mulus.

"Dulu satu hari bisa Rp 2 juta. Sekarang kan enggak nentu sih, kalau terjual satu buku sehari saja sudah syukur kalau musim-musim begini," ucapnya.

Hanya Ramai Saat Tahun Ajaran Baru

Penjualan buku di toko Rahidin kini sangat bergantung pada musim. Momen paling ramai biasanya terjadi ketika tahun ajaran baru dimulai. Itu pun tidak berlangsung sepanjang tahun.

Mahasiswa baru biasanya masih membeli buku-buku dasar yang dianggap penting untuk perkuliahan. Setelah masa tersebut berlalu, jumlah pembeli kembali turun.

"Kalau tahun ajaran baru itu biasa buku-buku dasar, kayak hukum, buku-buku wajibnya harus beli dulu dasarnya semua," kata dia.

Untuk semester berikutnya, penjualan biasanya semakin menurun. Di sekitar UI, buku hukum menjadi salah satu jenis buku yang masih dicari.

Lokasi toko yang berdekatan dengan fakultas hukum membuat mahasiswa dari jurusan tersebut masih datang untuk mencari buku.