Bepergian

Tante Cantik

Jul 31, 2026 IDOPRESS

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

SEJATINYA, bahasa juga bisa menentukan bagaimana seseorang dikenali.

Dalam berkomunikasi, pilihan kata bukan hanya soal sopan atau tidak sopan, melainkan juga soal identitas mana yang ditempatkan di depan dan identitas mana yang ditempatkan di belakang.

Misalnya, kalimat yang diucapkan Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni kepada Gubernur Maluku Utara, "Tante cantik ini, yang siap menerima kunjungan dari para lelaki yang ada di republik ini," layak dibaca bukan hanya sebagai candaan, tetapi juga sebagai persoalan kebahasaan!

Sekilas, tidak ada kata yang secara leksikal tergolong kasar.

Kata tante dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kakak atau adik perempuan ayah atau ibu, serta sapaan kepada perempuan yang lebih tua.

Kata cantik juga merupakan kata sifat yang lazim digunakan untuk menyatakan keelokan rupa.

Sementara frasa "menerima kunjungan" secara denotatif hanya berarti menerima tamu. Jika setiap kata dipisahkan, tidak ada yang bermasalah.

Namun, makna tidak hanya bekerja melalui kata-kata yang berdiri sendiri. Makna lahir dari hubungan antarkata, konteks pemakaian, dan pengetahuan bersama antara penutur dan pendengar.

Saussure dalam Course in General Linguistics (1916) menjelaskan, makna suatu tanda bahasa ditentukan oleh relasinya dengan tanda lain dalam suatu sistem.

Oleh karena itu, sebuah kata dapat berubah nilai maknanya ketika ditempatkan dalam konstruksi (konteks) yang berbeda.

Bisa saja dalam ujaran tersebut, kata "tante" bukan lagi sekadar sapaan.

Ia berubah menjadi kategori identitas. Kata benda yang semula menunjuk hubungan kekerabatan bergeser menjadi label sosial bagi seorang pejabat perempuan.

Pergeseran ini semakin kuat karena diikuti oleh kata sifat "cantik".

Alih-alih mengaktifkan identitas kelembagaan sebagai gubernur, bahasa justru mengaktifkan identitas personal sebagai perempuan yang dinilai berdasarkan penampilannya, bukan?

Di sinilah analisis kategori kata menjadi penting. Secara gramatikal, tante adalah nomina, sedangkan cantik adalah adjektiva yang menerangkan nomina tersebut.