Bepergian

Ferry Irwandi di Sidang Khariq Anhar Sebut "Timpa Teks" Meme Satire: Bukan Hoaks

Jul 7, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Kreator konten Ferry Irwandi hadir sebagai saksi meringankan (a de charge) dalam sidang lanjutan kasus dugaan manipulasi informasi elektronik atau "timpa teks" dengan terdakwa Khariq Anhar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).

Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim, Ferry secara tegas menyatakan bahwa editan visual berupa "timpa teks" pada sebuah berita merupakan bagian dari kultur internet masa kini sebagai sebuah meme satire, bukan hoaks.

Menurut Ferry, editan yang dilakukan oleh Khariq sangat terlihat jelas bukan asli dan sama sekali tidak memiliki niat untuk mengelabui publik.

"Buat saya timpa teks itu hal yang lumrah terjadi di media sosial atau internet sekarang, karena memang diperuntukkan untuk orang supaya tahu itu timpa teks. Bukan bagian dari fitnah, hoaks, atau lain sebagainya," ujar Ferry di ruang sidang PN Jakpus, Senin.

Ferry menyampaikan, ada perbedaan jelas antara editan timpa teks yang dimaksudkan sebagai meme humor dengan yang dibuat dengan tujuan hoaks.

Menurut dia, konten yang diedit untuk tujuan hoaks pasti dibuat semirip mungkin dengan aslinya dengan penuh usaha sang pembuat, agar tak dikenali bahwa itu adalah hasil editan.

"Dan itu dilakukan dengan effort lebih, yaitu menyamakan teks, menyamakan ukuran, menyamakan warna, sehingga seakan-akan itu dibuat dan diterbitkan oleh sumber beritanya langsung. Tapi yang dilakukan Khariq berbeda," ucap Ferry.

Menurut dia, editan "timpa teks" yang dibuat Khariq Anhar justru sangat terlihat jelas palsu karena tulisannya diblok warna hitam, berbeda dengan gaya tulisan asli dari media yang ditampilkan.

"Tidak mungkin ada media yang menulis dengan garis hitam seperti itu karena bentuknya memang seperti meme, yang sudah berkembang dari lama di internet Indonesia dan dunia tentunya," kata Ferry.

Ia bahkan meyakini bahwa siapa pun yang melihat editan Khariq akan langsung menyadari bahwa gambar itu bukanlah produk jurnalistik, melainkan meme sindiran semata.

"Bahkan saya berani, menurut keyakinan saya, ketika itu diberikan kepada anak di bawah umur pun tahu kalau itu bukan hal yang asli," ucap Ferry.

"Karena itu di-stamp, di-brush, dibikin warna hitam, dibikin font-nya berbeda. Jadi bentuk dari kritisi yang dilakukan oleh Khariq," sambungnya.

Ferry pun menyoroti fenomena "timpa teks" sebenarnya merupakan hal yang lumrah terjadi setiap hari di media sosial.

Ia mengambil contoh banyak kasus serupa yang menargetkan pejabat publik, tetapi tidak pernah berujung pada pemidanaan seperti yang dialami Khariq.

"Timpa teks lain yang pernah saya lihat adalah komentar Menteri ESDM Pak Bahlil menanggapi satu aksi demo waktu itu, yang mana Pak Bahlil bilang dia tidak mengetahui itu ditimpa teks oleh pegiat media sosial. Lalu timpa teks terakhir yang saya lihat ada cuplikan dari Gerindra Jakarta Utara, yang juga dilakukan dalam konteks satire, humor, dan komedi," tuturnya.