Bepergian

Hikmahanto Ingatkan Perjanjian Damai Iran-AS Baru Tahap Awal, Indonesia Harus Ikut Mengawal

Jun 25, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Pakar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran merupakan langkah awal yang masih sangat rapuh dan memerlukan pengawalan ketat dalam 60 hari ke depan.

"Perlu diingat, bahwa ini hanya tahapan pertama, MoU (Nota Kesepahaman)ya disebutnya," kata Hikmahanto dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, Rabu (25/6/2026).

Dia menjelaskan bahwa dokumen yang ada saat ini barulah berupa nota kesepahaman atau Framework Agreement.

Di dalam fase pertama yang berlaku selama 60 hari ini, kedua negara akan melakukan negosiasi teknis mendalam, mulai dari persoalan senjata nuklir hingga pengayaan uranium oleh Iran.

Sebab itu, Indonesia dinilai perlu mengawal karena juga memiliki kepentingan untuk pelayaran minyak di Selat Hormuz.

Hal ini krusial karena masalah jalur logistik energi inilah yang selama ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok global, termasuk ke Indonesia

Bahaya Sabotase Israel

Namun, Hikmahanto memberikan peringatan keras mengenai posisi Israel dalam konstelasi ini.

Ia menyebut Israel berpotensi menjadi "pensabotase" perdamaian dunia karena memiliki kedaulatan sendiri yang belum tentu sejalan dengan keinginan Presiden Amerika Serikat.

"Kalau saya menyebutnya enggak hanya kerikil, tapi bisa menjadi pensabotase. Pensabotase tidak hanya antara Amerika dan Iran, tetapi dunia," tegas Hikmahanto.

Menurutnya, jika fase awal ini berhasil menstabilkan situasi geopolitik, maka pemerintah Indonesia tidak memiliki alasan lagi untuk berdalih atas lesunya ekonomi nasional.

"Sekarang ini pemerintah tidak bisa lagi menyalahkan perekonomian sedang lesu itu karena masalah geopolitik," tegasnya

Negosiasi Putaran Pertama

Negosiasi putaran pertama antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss pada Senin (22/6/2026) telah selesai dengan menghasilkan sejumlah kesepahaman awal.

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan tersebut membangun “fondasi yang sukses” untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang.

Pertemuan yang berlangsung di kawasan pegunungan Burgenstock, Swiss, itu digelar setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik.

Pembicaraan melibatkan delegasi AS yang dipimpin Vance dan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar.

Kerangka yang dibuat memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk menyusun perjanjian akhir, dengan kemungkinan diperpanjang jika disetujui bersama.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang