Bepergian

Dari Roti Eropa ke Jajanan Pasar, Asal Usul Galundeng yang Jarang Diketahui

May 7, 2026 IDOPRESS
Di tengah deretan roti modern dan camilan viral di toko kekinian, kue bantal atau galundeng masih setia bertahan di sudut-sudut pasar tradisional.

JAKARTA, iDoPress - Di tengah deretan roti modern dan camilan viral yang memenuhi etalase toko kekinian, kue bantal atau dikenal dengan galundeng masih setia bertahan di sudut-sudut pasar tradisional.

Salah satunya di Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, yang masih terdapat pedagang kue galundeng bernama Suyatno (60).

Hampir 43 tahun lamanya, Suyatno bertahan menjaga kuliner tradisional di tengah kota Jakarta.

"Dagang galundeng dari tahun 1983. Dan selalu laku sekitar 350 buah per harinya," kata dia ketika ditemui iDoPress di lokasi, Rabu (6/5/2026) malam.

Bentuknya yang kotak, tekstur padat, dengan rasa manis yang akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa makanan lawas ini menyimpan jejak sejarah panjang sampai akhirnya menjadi jajanan pasar tradisional di Indonesia.

Beda nama di setiap kota

Menariknya lagi, kue yang satu ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap kota di Indonesia.

"Galundeng dan kue bantal sebenarnya adalah makanan yang sama, yaitu roti goreng manis berbentuk kotak yang empuk, namun memiliki penyebutan berbeda tergantung daerahnya," ujar Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI) Imam Setyobudi ketika dihubungi iDoPress, Rabu.

Kue ini lebih dikenal dengan nama galundeng di wilayah Yogyakarta, Purworejo, dan Banyumas.

Sementara di Jakarta orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai kue bantal. Sedangkan di Jawa Barat, kue ini lebih populer dengan nama odading.

Di Jawa Tengah dan Semarang, orang cenderung menyebutnya sebagai bolang baling, sedangkan di Solo disebut gembukan.

Kemudian, di wilayah Madiun, Magetan, dan sekitarnya, kue ini lebih dikenal degan nama golang-galing.

Sedangkan di Kalimantan nama kue ini adalah Wadai. Terakhir, di Medan kue ini justru disebut kue bohong karena bagian dalamnya yang kosong atau kopong.

Di balik namanya yang beragam, bahan dasar kue ini tetap sama, yaitu adonan tepung terigu, gula, dan ragi yang digoreng dengan minyak banyak agar mengembang menyerupai bantal dan berwarna kecokelatan.

Asal usul galundeng

Imam mengatakan, akar tradisi kue manis ini merupakan hasil akulturasi budaya yang panjang di nusantara, terutama dipengaruhi oleh kuliner Tionghoa dan Eropa Belanda.

Bahan dasar yang berasal dari terigu dan ragi untuk membuat roti yang mengembang adalah pengaruh kuat dari budaya barat atau Belanda selama masa kolonial.

"Secara bentuk dan teknik, galundeng memiliki kemiripan dengan oliebollen, donat tradisional Belanda yang digoreng," kata Imam.

Bahkan, nama odading sebutan kue bantal di Jawa Barat muncul dari anekdot keluarga Belanda yang menyebut roti goreng ini dengan kalimat 'O, dat ding' yang memiliki arti 'oh, benda itu'.