Bepergian

Hadiri FGD UGM, Menko Airlangga Soroti Kekuatan Ekonomi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia

Apr 15, 2026 IDOPRESS
Menko Airlangga Hartarto menyoroti kekuatan ekonomi Indonesia dan diplomasi perdagangan global dalam FGD di UGM, termasuk negosiasi tarif dengan AS.

iDoPress - Memasuki triwulan II-2026, perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang kuat.

Kombinasi inflasi yang terkendali, surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingginya kepercayaan konsumen menciptakan fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, sektor keuangan tetap menunjukkan kinerja solid, tercermin dari pertumbuhan simpanan perbankan dan ekspansi kredit yang stabil.

“Tingkat kemiskinan kita turun menjadi 8,25 persen. Gini ratio kita turun, pengangguran juga menurun. Penciptaan lapangan kerja sepanjang 2025 mencapai 2,71 juta tenaga kerja baru,” ujar Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartartodalam rilis pers yang diterima iDoPress, Rabu (15/4/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Focus Group Discussion (FGD) The Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika Serikat di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu.

Sejalan dengan penguatan fundamental tersebut, capaian diplomasi ekonomi global Indonesia, terutama pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terus diperluas melalui berbagai perjanjian dan kemitraan strategis.

Indonesia berpartisipasi aktif dalam forum global, seperti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), I-EAEU CEPA, BRICS, G20, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), ASEAN, danComprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Pada saat yang sama, negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) membuka peluang peningkatan ekspor industri padat karya dan penciptaan lapangan kerja.

Pemerintah juga terus memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dengan berbagai negara mitra. Sejumlah perjanjian telah diselesaikan, antara lain dengan Jepang, Pakistan, Palestina, Chile, Australia, Mozambik, Korea, Iran, Peru, Kanada, dan Tunisia.

Sementara itu, sejumlah perundingan masih berlangsung, termasuk dengan Pasar Bersama Selatan (Mercado Común del Sur/Mercosur), kawasan Teluk (Gulf countries), serta Bangladesh, Sri Lanka, Maroko, Turkiye, dan Uzbekistan.

Terkait hubungan perdagangan Indonesia dengan AS, Airlangga menyampaikan bahwa AS secara konsisten menjadi penyumbang surplus perdagangan tertinggi sekaligus salah satu destinasi ekspor terbesar Indonesia.

“Kenapa Amerika penting? Karena neraca dagang positif tertinggi kita berasal dari Amerika. Amerika mengimpor produk manufaktur Indonesia seperti minyak sawit, elektronik, sepatu, tekstil, furnitur, dan lainnya,” ucapnya.

Lebih lanjut, pemerintah mencatat kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan dengan AS yang berlangsung intensif sejak April 2025 hingga awal 2026.

Rangkaian pertemuan bilateral menghasilkan penurunan tarif sejumlah produk Indonesia, dari sebelumnya 32 persen menjadi sekitar 19 persen untuk komoditas tertentu, serta peluang pembebasan tarif (0 persen) bagi 1.819 produk terpilih.

Kebijakan ini memberikan perlindungan sekaligus dorongan bagi industri padat karya dalam negeri yang menyerap sekitar 5 juta tenaga kerja.