Tech

30 Menit Naik Tower 104 Meter, Begini Cerita Anang Jalani Pekerjaan Berisiko Tinggi

Aug 12, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Selasa (11/8/2026) siang, kawasan Jalan R.E. Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terasa terik. Angin pesisir hanya sesekali berembus di tengah panas yang menyengat.

Jauh di atas tanah, empat pekerja tampak berada di tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) setinggi 104 meter. Dari bawah, tubuh mereka terlihat kecil di antara rangka baja yang menjulang.

Mereka bergelantungan pada struktur besi menara sambil menarik kabel konduktor yang dialirkan melalui katrol penarik berwarna kuning.

Ketika azan dzuhur berkumandang, para pekerja mulai turun. Perlahan, kaki mereka berpijak pada penyangga silang baja menara. Salah satunya adalah Anang (29).

Mengenakan body harness dan topi kuning, Anang akhirnya tiba di bawah setelah menuruni tower.

Ia langsung mencuci tangan menggunakan air dari galon yang berada di sekitar area kerja. Setelah itu, ia menggelar tikar dan menyantap nasi bungkus yang diberikan temannya.

Bagi Anang, berada di ketinggian kini sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang sejak awal ia cita-citakan.

Ia mengaku menerima pekerjaan itu karena keadaan setelah putus sekolah.

"Ya keadaan sih, udah putus sekolah. Awal mula sih diajak temen aja. Ya awalnya takut, di ketinggian takut," tutur dia saat ditemui iDoPress, Selasa.

Pekerjaan di ketinggian pertama yang dijalaninya adalah menaiki tower setinggi sekitar 60 meter. Kini, ia terbiasa bekerja di tower yang tingginya mencapai 104 meter.

Hampir tujuh tahun Anang menjalani pekerjaan tersebut. Selama itu, ia kerap berpindah-pindah lokasi mengikuti proyek yang diberikan kepadanya.

Ia pernah bekerja di Papua, Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Bali.

Bekerja dari satu daerah ke daerah lain menjadi salah satu hal yang ia sukai dari pekerjaannya. Namun, kondisi tersebut juga membuatnya harus sering berjauhan dengan keluarga, termasuk istri dan anaknya.

"Ya sukanya sih keliling Indonesia. Dukanya sih ya enggak ketemu yang di rumah, jarang gitu," kata Anang.

Meski begitu, pekerjaan sebagai pekerja ketinggian tetap dijalaninya. Ia mengaku pekerjaan tersebut masih menjadi pilihan yang bisa dilakukannya.