
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
DARI berbagai pemberitaan dan diskursus berkembang di masyarakat, nampaknya tidak ada keraguan, sistem pembayaran digital berperan penting dalam mendukung perekonomian nasional.
Ibarat pembuluh darah yang bersih mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh, demikian halnya sistem pembayaran digital berperan penting memastikan aliran rupiah dalam perekonomian Indonesia dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali kaum difabel.
Data World Health Organization (WHO) menyatakan populasi dunia saat ini terdiri dari 1,3 miliar jiwa kaum difabel, setara dengan 16 persen total penduduk global.
Di Indonesia, jumlahnya difabel diperkirakan mencapai 22,97 hingga 28,05 juta jiwa.
Fakta membuktikan, kaum difabel, termasuk mereka dengan keterbatasan fisik dan sensorik, mampu berperan penting dalam perputaran ekonomi.
Hasil kajian dari organisasi buruh internasional (ILO) dengan judul The Price of Exclusion menunjukkan sebuah kesimpulan sangat penting.
Potensi Produk Domestik Bruto (PDB) global yang hilang akibat kegagalan pasar dalam menyerap tenaga kerja difabel mencapai hingga 7 persen setiap tahunnya.
Bagi negara berkembang, dampak tersebut bahkan jauh lebih besar.
Hasil penelitian ILO menegaskan, kegagalan melibatkan kaum difabel ke dalam sektor kerja menyebabkan kerugian ekonomi tahunan sangat besar.
Kabar baiknya, setiap kenaikan 1 persen penyerapan tenaga kerja difabel melek teknologi digital berpotensi mendongkrak PDB negara berkembang sebesar 0,1 hingga 0,2 persen.
Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Momentum ini menjadi saat baik untuk merenungkan makna kemerdekaan ekonomi sesungguhnya.
Kemerdekaan ekonomi harus menjangkau setiap warga negara, tidak terkecuali kaum difabel.
Saat ini, sumbangsih ekonomi kaum difabel tersebar di berbagai sektor, terutama pada usaha informal dan wirausaha mandiri yang porsinya mencapai lebih dari 70 persen.
Sektor industri kreatif, jasa, digital, hingga ekosistem ojek online kini diisi oleh kaum disabilitas fisik dan sensorik.