
CIAMIS, iDoPress - Di tengah rimbunnya Leuweung Gede, Hutan Adat Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, seorang remaja tampak berdiri tenang di antara pepohonan.
Ikat kepala berwarna ungu melingkar di kepalanya, sementara tas punggung kecil melekat di bahunya.
Namanya Vano (14).
Ia bukan sekadar warga Kampung Adat Kuta, melainkan generasi muda yang sejak kecil diperkenalkan dengan hutan adat dan kini mulai dipercaya mendampingi wisatawan yang berkunjung.
Vano merupakan putra Sekretaris Adat Kampung Adat Kuta, Firman Khabibi.
Ia sudah akrab dengan hutan sejak kecil.
"Pertama kali masuk (hutan) umur delapan tahun," kata Vano saat berbincang dengan iDoPress di dalam kawasan Hutan Adat Kuta, Senin (27/7/2026).
Bukan sang ayah yang pertama kali mengajaknya mengenal hutan, melainkan kakeknya.
Sejak saat itu, ia mulai terbiasa keluar masuk Leuweung Gede hingga dua kali dalam sepekan.
Kini, di usianya yang menginjak 14 tahun, Vano mulai dipercaya membantu mendampingi wisatawan yang ingin mengenal kawasan hutan maupun Kampung Adat Kuta.
"Pendampingin saja," ujarnya singkat ketika ditanya tugasnya di dalam hutan.
Meski sudah enam tahun mengenal Leuweung Gede, Vano mengaku belum menjelajahi seluruh kawasan hutan adat.
Selama ini, ia lebih sering mendampingi pengunjung di jalur yang biasa dilalui wisatawan.
Ia juga tak pernah merasa takut berjalan tanpa alas kaki di dalam hutan, aturan yang wajib dipatuhi setiap orang yang memasuki Leuweung Gede.
"Enggak pernah," kata Vano.