
JAKARTA, iDoPress - Mendampingi anak dengan speech delay tentu saja tidak mudah untuk sebagian orangtua.
Ketika kata-kata yang dinanti tak kunjung keluar dari mulut sang buah hati, mereka memilih untuk terus berikhtiar.
Sebab, kondisi speech delay membuat anak sulit untuk berosialisasi dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Bahkan mereka juga kerap kesulitan untuk menyampaikan apa yang dibutuhkan atau diinginkan kepada orangtuanya.
Berbagai usaha dilakukan agar anak yang disayangi mampu berbicara seperti teman-teman sebayanya.
Perjuangan itu lah yang sedang dijalani ayah anak dua asal Cilincing, Jakarta Utara, bernama Yusuf (30) yang sedang mendampingi putra sulungnya bernama Artan (7) untuk sembuh dari speech delay.
"Kami bawa ke psikolog saat dia mau menginjak usia lima tahun. Namun, menurut saya hasilnya kurang memuaskan," ucap dia ketika diwawancarai iDoPress di lokasi, Kamis (2/7/2026).
Yusuf sudah mencoba membawa Artan ke psikolog sebanyak empat kali, sejak usianya masih lima tahun.
Bahkan, Artan juga sempat melakukan terapi beberapa kali di berbagai tempat, namun tak menunjukkan hasil signifikan.
Yusuf mengaku, hanya mendapat saran dari psikolog agar banyak-banyak bersabar menghadapi Artan karena anak dengan speech delay mudah sekali tantrum.
Oleh karena itu, ia belum membawa Artan lagi ke psikolog atau dokter, karena biayanya yang lumayan mahal.
Dalam satu kali berkonsultasi dengan psikolog, biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 500.000 hingga Rp 600.000.
Sementara dalam satu bulan, konsultasi yang harus dilakukan sebanyak dua kali dengan biaya sekitar Rp 1,5 juta.
Tak hanya ke psikolog, Yusuf juga sempat membawa putranya untuk menjalani pengobatan tradisional.
"Selain ke psikolog, kami juga mencoba pengobatan tradisional di kampung istri, seperti lidahnya dikerok menggunakan cincin, tapi tetap saja butuh proses lama," jelas dia.
Upaya-upaya itu dilakukan demi menebus kesalahannya karena jarang mengajak Artan untuk berkomunikasi sejak kecil.
Yusuf lebih sibuk bekerja, sementara istrinya harus mengurus pekerjaan rumah, sehingga Artan seringkali diberikan gawai sejak usia 1,5 tahun agar tidak rewel.
Paparan gawai yang terlalu berlebihan itu lah yang membuat kemampuan berbicara Artan mengalami kemunduran.
Meski di sisi lain, kemampuan Artan dalam menggunakan teknologi seperti ponsel sudah tak bisa diragukan lagi.
Di sisi lain, kata Yusuf, putranya lebih terbiasa mengucapkan kata-kata dengan Bahasa Inggris, karena sering menonton konten-konten di media sosial.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memastikan Artan tetap bisa mengenyam bangku pendidikan di tengah keterbatasan.