
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
DI BANYAK negara maju, pejabat publik umumnya berhati-hati mempertontonkan gaya hidup.
Mereka mungkin kaya, bergaji besar, atau memiliki akses terhadap kemewahan, tetapi jarang secara terbuka memamerkan jam tangan mahal, koleksi kendaraan mewah, atau liburan-liburan eksklusif mereka.
Ada semacam tekanan sosial yang membuat elite politik tetap tampak “membumi”.
Fenomena itu sering dikaitkan dengan konsep "Tall Poppy Syndrome" (TPS).
Secara sederhana, TPS adalah kecenderungan sosial untuk “memotong” orang-orang yang terlalu menonjol dibanding lingkungannya.
Istilah ini populer di Australia dan Selandia Baru, meski metaforanya sudah ada sejak Romawi Kuno.
Dalam catatan Livy, sejarawan Romawi, yang berjudul "Ab Urbe Condita", Kaisar Lucius Tarquinius Superbus digambarkan memotong bunga poppy yang paling tinggi ketika putranya meminta petunjuk bagaimana menguasai kota.
Perbuatan sang kaisar, dipahami sang putra sebagai simbol untuk menyingkirkan individu yang terlalu berpengaruh di kota, dan itu dilakukannya.
Dalam konteks yang lebih kontemporer, maknanya bergeser.
“Tall poppy” bukan lagi ancaman politik terhadap sang kaisar, melainkan ancaman kepada siapa saja individu yang dianggap terlalu mencolok secara sosial, terlalu kaya, terlalu sukses, terlalu terkenal, atau terlalu demonstratif dalam menunjukkan statusnya.
Fenomena ini sering dipahami semata sebagai persoalan budaya atau psikologi sosial.
Padahal, jika ditarik lebih jauh, TPS sebenarnya juga berkaitan erat dengan ruang dan bagaimana kekuasaan dipertontonkan dalam berbagai bentuk ruang.
Dalam "Production of Space", Henri Lefebvre melihat bahwa ruang bukan sesuatu yang netral.
Ruang diproduksi melalui relasi sosial, ekonomi, dan politik. Kota, kawasan elit, pusat bisnis, hingga ruang digital tidak sekadar menjadi lokasi aktivitas manusia, melainkan arena tempat kekuasaan dipamerkan dan dipertahankan.
Karena itu, “terlalu menonjol” sebenarnya bukan hanya soal kekayaan, tetapi soal visibilitas dalam ruang.
Rumah mewah di tengah lingkungan miskin, iring-iringan kendaraan pejabat di jalan umum, pesta elite di hotel eksklusif, hingga unggahan liburan ke Paris atau Dubai di media sosial adalah bentuk produksi ruang simbolik.
Semua itu menyampaikan pesan yang sama: ada kelompok yang hidup di lanskap berbeda dari mayoritas masyarakat.
Di era digital, ruang semacam ini semakin luas. Media sosial telah berubah menjadi ruang representasi status.
Feed Instagram, video TikTok, atau unggahan perjalanan ke luar negeri menjadi semacam desain sosial baru tempat orang membangun citra tentang siapa dirinya.