
JAKARTA, iDoPress – Bagi sebagian orang, bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kerap dianggap sebagai bentuk kenyamanan kerja yang memberi keleluasaan waktu dan ruang.
WFH juga sering dipersepsikan sebagai hari kerja yang lebih santai: tanpa harus terjebak macet, tanpa seragam, dan terasa lebih fleksibel karena bisa bekerja dari rumah.
Namun, bagi Karunia Putri (29), seorang aparatur sipil negara (ASN) di bidang administrasi di Cileungsi, Kabupaten Bogor, WFH justru menjadi perjuangan tersendiri.
Di kamar sederhana dengan meja seadanya, Karunia harus bekerja dengan sinyal internet yang naik turun dan kuota yang cepat terkuras dalam hitungan jam.
Jika di kantor koneksi internet stabil dan meja kerja memadai sudah tersedia, di rumah semua itu harus disiapkan sendiri.
Karunia bahkan harus sepenuhnya mengandalkan hotspot dari ponsel pribadinya karena tidak memiliki jaringan WiFi di rumah.
Bagi Karunia, kebijakan WFH satu hari dalam sepekan tetap memiliki tujuan yang ia pahami, terutama untuk mengurangi konsumsi BBM dan mobilitas pekerja.
Namun, pengalaman bekerja dari rumah tidak selalu berjalan mulus.
Ia menjelaskan, ritme kerja kantor tetap padat meski dilakukan dari rumah. Bahkan, Jumat sering menjadi hari yang sibuk karena banyak rapat daring dan pengiriman dokumen berukuran besar.
“Biasanya juga banyak rapat online yang dijadwalkan di hari itu. Selain itu, saya sering kirim dokumen atau file yang ukurannya lumayan besar. Jadi hampir sepanjang hari itu saya benar-benar bergantung ke internet," kata Karunia saat dihubungi, Selasa (5/5/2026).
Di rumah, Karunia bekerja dari kamar dengan meja sederhana. Seluruh aktivitas kantornya bergantung pada hotspot dari telepon genggam pribadi.
“Saya kerja di kamar, pakai meja seadanya. Tapi untuk internet, saya full pakai hotspot dari HP. Tidak ada WiFi di rumah," ujar dia.
Menurut Karunia, perbedaan fasilitas antara bekerja di kantor dan di rumah sangat terasa.
“Di kantor semua sudah siap, termasuk jaringan. Di rumah, kita harus menyediakan sendiri. Dan buat saya, yang paling terasa itu adalah ketergantungan ke kuota," katanya.
Karunia mengaku penggunaan kuota internet meningkat drastis sejak menjalani WFH.
Dalam satu hari Jumat, kebutuhan data internetnya bisa mencapai 5 hingga 10 GB, tergantung intensitas rapat dan pengiriman file.
“Kalau saya bisa habis 5–10 GB hanya dalam satu hari Jumat, tergantung banyaknya meeting dan kirim file. Jadi otomatis harus sering beli paket tambahan," ucapnya.
Ia mengatakan, pengeluaran untuk internet menjadi biaya tambahan yang cukup terasa secara finansial.
Selain itu, kendala teknis seperti sinyal yang tidak stabil juga kerap mengganggu pekerjaan, terutama saat rapat daring berlangsung.
“Tergantung sinyal. Kadang lancar, tapi sering juga tidak stabil," kata Karunia.