
iDoPress - Perselisihan antar-pengendara di jalan kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kasus berujung pada tindakan agresif dan viral di media sosial.
Di Jagakarsa, Jakarta Selatan, awal Juli 2026 lalu misalnya, seorang pengendara Kawasaki Ninja diduga memukul pengendara lain setelah terjadi senggolan di tengah jalan. Perselisihan tersebut berujung laporan polisi dan penangkapan pelaku.
Selang beberapa hari, seorang pengemudi taksi online mengamuk dan merusak mobil pengendara lain di kawasan Danau Sunter Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara karena emosi tak diberi jalan. Pelakumerusak kaca spion dan mematahkan dua buah wiper hingga menyebabkan kerusakan pada bodi mobil korban.
Kasus lain terjadi pada akhir Juli 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Perselisihan antara petugas keamanan dan pengemudi Toyota Alphard bermula setelah dugaan pelanggaran lampu merah. Meski sempat terjadi cekcok, kedua pihak akhirnya menjalani mediasi dan saling memaafkan.
Terbaru, Selasa (18/8/2026) video sopir Toyota Alphard memukul sepeda motor pengemudi ojek menggunakan batu di Jalan IKPN, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, juga viral di media sosial.
Pengemudi ojek, Mulyadi (53), mengatakan perselisihan bermula setelah kedua kendaraan berada berdekatan dan diduga terjadi senggolan. Persoalan kemudian berkembang hingga sopir Alphard memukul bagian depan sepeda motornya menggunakan batu.
Setelah video tersebut viral, sopir Alphard bersama pihak perusahaan tempatnya bekerja mendatangi rumah Mulyadi untuk melakukan mediasi. Kedua pihak kemudian sepakat menyelesaikan persoalan secara damai.
Rangkaian kejadian tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa seseorang bisa begitu mudah terpancing emosi hingga bersikap agresif ketika berada di jalan?
Psikolog Novita Tandry mengatakan, perilaku agresif di jalan tidak selalu dapat dijelaskan hanya karena seseorang sedang mengalami stres.
Menurut dia, setiap kasus memiliki latar belakang berbeda. Namun, tekanan hidup yang menumpuk dan kemampuan mengelola emosi dapat menjadi faktor yang membuat seseorang lebih mudah kehilangan kendali.
"Kalau yang pertama, saya melihat dari video yang beredar, itu bukan semata-mata karena stres. Dia memang ingin melampiaskan kemarahannya," kata Novita.
Pernyataan tersebut disampaikan Novita saat membahas sejumlah kasus kekerasan di jalan yang terjadi di Jakarta.
Novita menjelaskan, tekanan yang dialami seseorang tidak selalu berasal dari situasi di jalan.
Berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, kondisi ekonomi, persoalan keluarga, hingga kelelahan mental, dapat terakumulasi dan memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Ketika tekanan tersebut bertemu dengan situasi yang dianggap mengganggu, seperti kemacetan atau kendaraan lain yang melakukan kesalahan, respons emosional seseorang dapat menjadi lebih kuat.