
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
SELAMA ini, terminal penumpang di Indonesia lebih banyak dipahami sebagai tempat naik dan turun penumpang, menunggu bus, membeli tiket, dan melakukan perpindahan antarmoda.
Cara pandang tersebut membuat fungsi terminal cenderung terbatas pada pelayanan pergerakan manusia, sementara aktivitas logistik berjalan melalui jaringan berbeda, seperti gudang, depo, pusat distribusi, dan kendaraan angkutan barang.
Padahal, terminal memiliki sejumlah karakteristik yang juga dibutuhkan dalam kegiatan logistik, yaitu lokasi yang strategis, akses terhadap jaringan jalan, ketersediaan lahan dan bangunan, serta konektivitas dengan berbagai moda transportasi.
Di tengah kebutuhan pengiriman barang yang semakin cepat, pertumbuhan perdagangan elektronik, dan tuntutan efisiensi biaya distribusi, pemanfaatan terminal sebagai simpul logistik menjadi salah satu alternatif layak dipertimbangkan.
Gagasannya bukan mengubah terminal penumpang menjadi gudang, tetapi Mengoptimalkan aset, ruang, waktu, dan kapasitas transportasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Persoalan utamanya adalah adanya pemisahan cukup tegas antara sistem transportasi penumpang dan logistik.
Pada satu sisi, bus antarkota memiliki jadwal perjalanan yang tetap dan menghubungkan berbagai kota.
Pada sisi lain, perusahaan logistik mengoperasikan kendaraan mengirim barang melalui koridor yang tidak jarang sama dengan rute perjalanan bus.
Dalam kondisi tertentu, terdapat kapasitas angkut yang belum termanfaatkan secara optimal, khususnya pada ruang bagasi bus.
Pada saat sama, terminal juga memiliki periode aktivitas yang lebih rendah setelah sebagian besar perjalanan penumpang selesai. Kondisi tersebut sebenarnya memberikan ruang untuk mengembangkan konsep pemanfaatan bersama, sepanjang kegiatan logistik ditempatkan pada ruang dan waktu yang tepat serta tidak mengganggu pelayanan dan keselamatan penumpang.
Pengiriman barang melalui bagasi bus sendiri bukan merupakan hal baru karena praktik tersebut sudah dikenal di sejumlah terminal dan kota.
Tantangannya adalah bagaimana praktik yang selama ini berjalan secara parsial dapat ditata menjadi bagian dari sistem lebih tertib, aman, transparan, dan dapat dikembangkan.
Terminal dengan tingkat pelayanan tinggi seperti Pulo Gebang, Tirtonadi, dan Bungurasih memiliki potensi untuk menjadi contoh pengembangan fungsi tersebut karena berada pada jaringan perjalanan antarkota padat dan memiliki hubungan langsung dengan pusat kegiatan ekonomi.
Di berbagai tempat, pengiriman paket melalui bus sudah menjadi pilihan masyarakat karena dapat memberikan waktu pengiriman yang relatif cepat.
Namun, pengembangan fungsi logistik tidak cukup hanya mengandalkan praktik pengiriman melalui bagasi.
Terminal perlu memiliki fasilitas pendukung berupa area bongkar muat, ruang transit, tempat penyortiran, dan jalur kendaraan yang terpisah dari pergerakan penumpang.
Dengan demikian, aktivitas barang tidak bercampur dengan kegiatan pelayanan penumpang. Pengembangan fasilitas juga tidak harus dilakukan melalui pembangunan terminal baru atau investasi besar.
Sebagian Lahan yang belum optimal digunakan dapat ditata sebagai cargo bay, gudang transit, atau tempat konsolidasi barang sesuai kebutuhan masing-masing terminal.
Terminal yang berada dekat sentra perdagangan atau kawasan produksi juga dapat dipertimbangkan untuk dilengkapi fasilitas tertentu, termasuk penyimpanan barang yang membutuhkan pengendalian suhu.
Aspek waktu menjadi bagian penting dalam pengembangan terminal sebagai simpul logistik.
Terminal pada dasarnya memiliki pola aktivitas yang berbeda antara siang dan malam. Pada jam sibuk, fungsi utama terminal harus tetap diarahkan pada pelayanan penumpang.
Sebaliknya, pada saat aktivitas penumpang mulai berkurang, sebagian area terminal dapat dimanfaatkan untuk kegiatan konsolidasi dan bongkar muat barang.
Pengaturan seperti ini memungkinkan satu aset menjalankan lebih dari satu fungsi tanpa harus membangun fasilitas baru di lokasi berbeda.
Namun, pengaturan waktu tidak dapat diseragamkan untuk seluruh terminal. Setiap terminal memiliki pola kedatangan dan keberangkatan bus, karakteristik lingkungan, kapasitas lahan, serta tingkat aktivitas penumpang yang berbeda.
Karena itu, jam operasional logistik perlu ditentukan berdasarkan kajian operasional masing-masing terminal.
Prinsip yang harus dijaga adalah kegiatan logistik tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan penumpang maupun menimbulkan risiko keselamatan.
Pemanfaatan kapasitas bagasi bus juga perlu ditempatkan dalam kerangka sama.