Olahraga

Di Balik Tradisi Menitipkan Abu Jenazah, Ada Rindu yang Belum Usai

Jul 29, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Tak semua orang siap kehilangan anggota keluarga tersayangnya untuk selama-lamanya, karena kematian.

Terutama bagi mereka yang ketika meninggal harus dikremasi dan abunya dilarung ke lautan, sehingga tak ada tanda untuk dikenang ketika keluarga merasa rindu.

Oleh karena itu, sebagian warga memilih untuk menyimpan separuh abu jasad orang tersayangnya.

Biasanya, abu jenazah itu ditaruh dalam guci keramik berukuran sedang dan bisa disimpan di rumah, wihara, atau penitipan rumah abu.

Untuk menitipkan abu di wihara atau rumah abu, pihak keluarga biasanya harus membeli kotak dengan harga yang berbeda-beda, sesuai kesepakatan dengan pihak pengelola.

Sebab, ada sistem beli putus. Di mana, pihak keluarga membeli kotak dengan harga lumayan mahal, namun setelahnya tak ada lagi biaya, meski abu tersebut ingin disimpan selama puluhan tahun.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Pintu masuk rumah penitipan abu jenazah di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (28/7/2026).

Tapi, ada pula yang tetap harus membayar biaya perawatan setiap bulan agar abu orang tersayangnya tetap terjaga.

Biaya yang harus dikeluarkan tergantung dari di mana abu tersebut akan dititipkan.

Tak bisa mengenang

Salah satu Umat Buddha, Yolanda (28), bercerita ketika keluarganya ada yang meninggal abunya ada yang langsung dilarung semua ke laut atau sebagian disimpan di rumah penitipan.

Penyebab abu jenazah dititipkan, karena anggota keluarga yang ditinggalkan takut tak bisa mengenang mendiang.

"Kalau dilarung semua ke laut itu kayak enggak bisa mengenang. Kalau mau mengenang begitu harus ke laut saja, enggak ada wujud yang bisa kayak makam yang kita bisa datangi," kata Yolanda kepada iDoPress, Selasa (28/7/2026).

Dengan adanya sebagian abu yang disimpan, keluarga merasa lebih tenang, karena masih ada kenangan dari mereka yang telah meninggal.

Umat Buddha lain, Shela (29), juga mengaku anggota keluarganya ketika meninggal, ada yang abunya langsung semua dilarung ke laut, namun ada juga yang disimpan.

Tapi, sebagian besar anggota keluarga Shella memutuskan untuk abunya segera dilarung ke laut, setelah proses kremasi selesai.

Alasan tak simpan di rumah

Shella bilang, keputusan untuk menitipkan abu atau tidak setelah proses kremasi selesai merupakan kepercayaan masing-masing.