Olahraga

Pejabat Bea Cukai Ungkap Asal Mula Istilah "Dana Operasional" di Sidang Suap

Jul 28, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress – Mantan Kepala Seksi Intelijen Cukai Kantor Pusat Bea Cukai, Budiman Bayu Prasojo, mengungkap awal mula munculnya istilah "dana operasional" dalam persidangan dugaan suap dan gratifikasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).

Istilah tersebut muncul setelah adanya arahan dari mantan Kepala Subdirektorat Intelijen Direktorat Penindakan dan Penyidikan DJBC Sisprian Subiaksono (kini terdakwa).

Budiman mengatakan tidak lama setelah Sisprian menjabat sebagai Kasubdit Intelijen, dirinya dipanggil secara empat mata.

Dalam pertemuan itu, Sisprian disebut meminta agar dilakukan komunikasi dengan para pengusaha cukai.

"Disampaikan saja bahwa selama ini kan ada kegiatan yang memang butuh cover dana operasional. Jadi beliau menyampaikan untuk melakukan komunikasi, intinya begitu," kata Budiman.

Jaksa kemudian mendalami maksud dana operasional tersebut.

Budiman menjelaskan bahwa Direktorat P2 sebenarnya telah memiliki anggaran resmi berupa DIPA dan Dana Operasional Kegiatan Pengamanan Kekayaan Negara (DOKPPN) yang digunakan untuk kegiatan dinas.

Namun, menurut Budiman, istilah dana operasional yang dimaksud berbeda dengan DOKPPN.

"Saat itu dibutuhkan dana yang lebih dari sekadar DOKPPN karena ada kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak bisa di-cover sama DOKPPN. Jadi saat itu dimunculkan istilah dana operasional," ujarnya.

Saat ditanya siapa yang mengetahui keberadaan dana operasional tersebut, Budiman menjawab Sisprian Subiaksono dan mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC Rizal, sama-sama mengetahuinya.

Budiman juga mengaku penyimpanan dana itu tidak dilakukan di kantor. Atas arahan Sisprian, dana tersebut disimpan di tempat lain dan dikelola oleh salah seorang bawahannya bernama Salisa.

Selain itu, Budiman mengungkapkan bahwa sebelum Sisprian menjabat, pola pengumpulan dana operasional seperti itu belum pernah ada di lingkungan Cukai P2.

"Tidak ada. Kami memang tidak membuka komunikasi terkait hal-hal seperti itu. Kami mencari informasi, tapi tidak menerima hal-hal seperti itu," katanya.

Budiman menambahkan, kultur di Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) bersifat komando.

Bahkan, Sisprian biasa dipanggil dengan sebutan "Ndan" yang merupakan singkatan dari komandan, sementara Rizal kadang dipanggil "Ndan" maupun "Pak Dir".