
JAKARTA, iDoPress - Di tengah ramainya Job Fair Jakarta Selatan di Gedung Nyai Ageng Serang, Setiabudi, seorang perempuan berkemeja batik tampak menyusuri deretan stan perusahaan yang berjajar di dalam hall.
Di tangan kirinya tergenggam sebuah iPad dan beberapa lembar selebaran yang baru diterimanya.
Di sampingnya, seorang penerjemah bahasa isyarat berbaju hitam setia mendampingi setiap percakapannya dengan para perekrut.
Ia berhenti di satu stan, lalu berpindah ke stan lainnya.
Bukan hanya perusahaan yang memasang penanda menerima pelamar penyandang disabilitas yang ia datangi, tetapi juga stan-stan lain dengan harapan menemukan peluang kerja.
Perempuan itu adalah Galuh (28), penyandang tuli yang telah sekitar tiga tahun merantau dari Semarang ke Jakarta.
Galuh datang ke job fair karena kontrak kerjanya sebagai desainer grafis telah berakhir. Kini, ia kembali berburu pekerjaan baru.
Namun, di lokasi tersebut ia mendapati hanya sedikit perusahaan yang secara terbuka menerima pelamar penyandang disabilitas.
"Di sini ada (perusahaan) menerima disabilitas, tapi hanya tiga perusahaan. Tapi, ada perusahaan yang lain di selain tiga itu, yang belum menerima disabilitas. Apa mungkin karena kedisabilitasan saya atau seperti apa, itu kesulitan yang saya hadapi," ungkap dia kepada iDoPress di lokasi, Rabu (8/7/2026).
Upaya Galuh mencari pekerjaan telah berlangsung cukup lama. Ia memperkirakan sudah mengirim lamaran ke lebih dari 200 perusahaan.
Meski beberapa kali berhasil lolos hingga tahap tes dan wawancara, langkahnya selalu terhenti sebelum diterima bekerja.
"Saya kira-kira udah 200 lebih tempat lamaran kerja yang saya coba. Saya kayak merasa capek karena kayak saya berusaha tapi belum inklusif terkait perusahaan yang menerima disabilitas bekerja di sana," tutur dia.
Tak hanya itu, Galuh juga mengaku pernah menemukan lowongan kerja yang secara terang-terangan menolak pelamar penyandang disabilitas.
"Pernah (ditolak karena disabilitas). Seperti di web, ada tulisan yang langsung penolakan disabilitas. Respons saya pasti merasa kecewa, capek, dan saya nangis ketika itu," ungkap dia.
Selain menghadapi tantangan sebagai penyandang disabilitas, Galuh juga merasa harus bersaing dengan pelamar yang lebih muda karena sejumlah perusahaan masih menerapkan batas usia dalam proses rekrutmen.