Olahraga

"Tak Perlu Diminta kalau Lihat Orang Tua Berdiri" Saat Lansia Tak Dapat Kursi KRL

Apr 10, 2026 IDOPRESS
Kursi prioritas KRL seharusnya ruang aman, namun sering jadi medan dilema. Lansia hingga ibu membawa anak kerap tak dapat hak.

JAKARTA, iDoPress - Di tengah padatnya mobilitas penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) di Jakarta, keberadaan kursi prioritas seharusnya menjadi ruang aman bagi kelompok rentan.

Namun dalam praktiknya, tidak semua penumpang mendapatkan hak tersebut dengan mudah.

Bagi Suyatno (67), warga Pasar Minggu, kursi prioritas bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kondisi fisiknya sebagai lansia.

“Harusnya tidak perlu diminta. Kalau lihat orang tua berdiri, ya sadar saja,” ujar Suyatno kepada iDoPress di dalam gerbong kereta menuju Stasiun Cikini, Rabu (8/4/2026).

Setiap pekan, Suyatno rutin menggunakan KRL untuk berjualan di Jakarta.

Namun, perjalanan yang ia tempuh tidak selalu berjalan nyaman, terutama ketika ia tidak mendapatkan tempat duduk.

“Kalau lagi ramai, ya mau tidak mau berdiri. Padahal kalau berdiri terlalu lama, kaki saya sudah tidak kuat,” kata dia.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Suasana gerbong kereta di dekat area kursi prioritas di Stasiun Manggarai pada Rabu (8/4/2026).

Dalam banyak kesempatan, ia melihat kursi prioritas justru telah terisi oleh penumpang yang lebih muda dan tampak sehat.

“Kadang saya lihat kursi prioritas diisi anak-anak muda. Mereka mungkin capek juga, tapi ya harusnya sadar,” tutur dia.

Meski memiliki hak sebagai penumpang prioritas, Suyatno mengaku jarang menegur atau meminta secara langsung. Ada rasa sungkan yang membuatnya memilih diam.

Akibatnya, ia lebih sering bertahan berdiri sambil berpegangan di dalam gerbong yang terus bergerak.

Situasi ini bukan tanpa risiko. Ia pernah hampir terjatuh saat kereta mengerem mendadak.

Beruntung, ada penumpang lain yang sigap menahannya.

“Pernah hampir jatuh, untung ada yang pegangin. Kalau tidak, bisa bahaya,” ujar dia.

Suyatno memahami bahwa banyak penumpang lain juga berada dalam kondisi lelah setelah beraktivitas seharian.

Namun, menurutnya, ada perbedaan mendasar antara kelelahan biasa dan keterbatasan fisik akibat usia.

“Anak muda capek kerja, saya mengerti. Tapi kalau saya, ini sudah faktor umur. Berdiri lama memang tidak kuat,” kata dia.

Di tengah pengalaman tersebut, ia juga mengaku masih menemukan penumpang yang menunjukkan kepedulian.

“Ada juga yang langsung berdiri dan bilang, ‘Silakan Pak’. Itu rasanya senang sekali, masih ada yang peduli,” katanya sambil tersenyum.

Namun, ia berharap momen seperti itu tidak hanya terjadi sesekali.

Bagi Suyatno, kesadaran seharusnya menjadi hal yang muncul secara otomatis, tanpa perlu diingatkan atau diminta.

Sementara lansia lain, Sofyan (60) duduk di kursi prioritas bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan kebutuhan.

“Saya bukan cuma bawa badan sendiri, tapi juga cucu. Kalau berdiri, saya takut tidak kuat jaga keseimbangan,” ujar Sofyan yang tampak duduk di kursi prioritas sambil memangku cucu perempuannya.

Dalam perjalanan, ia memikul dua tanggung jawab sekaligus, menjaga dirinya sebagai lansia, sekaligus memastikan keselamatan sang cucu.

“Kalau kereta goyang atau berhenti mendadak, yang saya pikirkan bukan cuma saya jatuh, tapi cucu saya juga bisa ikut terbentur,” kata dia.

Karena itu, ia merasa kursi prioritas memang diperuntukkan bagi kondisi seperti yang ia alami.

Meski duduk di kursi prioritas, Sofyan mengaku pernah mendapat tatapan tidak nyaman dari penumpang lain, terutama mereka yang mungkin tidak memahami kondisinya.

“Pernah ada yang lihat saya seperti heran, mungkin mikir saya masih kuat berdiri. Padahal umur saya sudah 60,” ujar dia.

Ia memahami bahwa tidak semua orang langsung mengerti situasi yang dihadapinya.

Sofyan menyadari bahwa kursi prioritas sering menjadi ruang “penilaian sosial”, siapa yang dianggap lebih berhak dan siapa yang tidak.

“Kadang orang melihat dari luar saja. Kalau tidak pakai tongkat atau tidak terlihat sakit, dianggap tidak butuh,” kata dia.

Padahal, menurutnya, membawa anak kecil di transportasi umum yang padat juga memiliki risiko tersendiri.

Di tengah pengalaman kurang menyenangkan, Sofyan juga merasakan sisi lain dari penumpang KRL yang masih memiliki empati.

Baginya, tindakan kecil seperti itu sangat berarti, terutama dalam kondisi perjalanan yang tidak selalu mudah.

Sofyan berharap masyarakat bisa lebih peka dan tidak hanya menilai dari apa yang terlihat.

“Tidak semua kebutuhan itu kelihatan. Kadang orang butuh duduk bukan karena lemah, tapi karena ada tanggung jawab lain,” ujar dia.

Ia juga menilai pentingnya kesadaran kolektif bahwa kursi prioritas bukan sekadar fasilitas, melainkan bentuk perlindungan bagi yang membutuhkan.

Kursi Prioritas jadi Struktur Sosial dan Krisis Empati

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai fenomena kursi prioritas di KRL tidak bisa dilihat sebagai persoalan sederhana.

Ia melihat persoalan ini sebagai kombinasi antara struktur sosial dan krisis empati yang terjadi di ruang publik perkotaan.

Dalam perspektif struktur sosial, keberadaan kursi prioritas sejatinya merupakan upaya untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan anak-anak.