
JAKARTA, iDoPress – Pementasan drama musikal Jalan Salib dalam rangka Jumat Agung di Gereja Katedral Jakarta menghadirkan perspektif yang berbeda pada 2026.Melalui tema “Lux in Nihilo” atau “terang dalam ketiadaan”, drama yang ditampilkan mengambil sudut pandang Petrus, salah satu murid Yesus.Salah satu anggota Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Jakarta, Michael, mendapat kepercayaan memerankan tokoh Petrus dalam pementasan tersebut. Ia mengaku peran itu menjadi tantangan besar karena kompleksitas karakter yang harus dibawakan."Pertama mungkin ada sedikit penolakan karena saya rasa perannya cukup kompleks dengan berbagai scene yang memang kutipannya langsung dari Kitab Suci," ungkap Michael ketika diwawancarai di lokasi, Jumat (3/4/2026).Menurut Michael, interpretasi yang diberikan sutradara menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menyampaikan pesan Kitab Suci agar mudah dipahami oleh umat.Meski demikian, ia tetap menjalani proses latihan secara konsisten selama lima bulan bersama tim OMK Katedral Jakarta."Secara perlahan dengan dukungan panitia dan tim OMK Katedral Jakarta, saya berproses selama lima bulan. Puji Tuhan, saya puas dengan hasilnya tadi," ungkap dia.Michael juga mengaku bersyukur dapat dipercaya memerankan tokoh utama, setelah pada tahun sebelumnya hanya berperan sebagai pendukung.Ia menilai, inovasi yang terus dilakukan Gereja Katedral Jakarta dalam pementasan Jalan Salib menjadi daya tarik tersendiri bagi umat."Yang saya suka dari Katedral Jakarta terus berinovasi dan beradaptasi menampilkan Jalan Salib dengan tema berbeda dari sudut pandang masing-masing tokoh yang terlibat dalam Jalan Salib," ucap dia.
Suasana haru
Sejumlah jemaat Katolik tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan drama musikal Jalan Salib yang digelar di Gereja Katedral Jakarta pada Jumat Agung. Pertunjukan itu menghadirkan nuansa haru dan refleksi mendalam bagi para penonton.Drama musikal Jalan Salib tahun ini, yang diperankan oleh OMK mengangkat tema Lux in Nihilo, yang berarti “terang dalam ketiadaan” atau dalam kegelapan.Cerita dipresentasikan melalui perspektif Petrus, murid Yesus, yang digambarkan sangat terobsesi mengikuti Sang Guru.Namun, dalam kelemahan dan keterbatasannya, Petrus justru menyangkal Yesus. Meski demikian, kasih Yesus tetap hadir dan tidak meninggalkannya dalam kesulitan.Jalan cerita yang emosional itu membuat jemaat terenyuh. Beberapa penonton bahkan menangis tersedu-sedu saat menyaksikan pertunjukan.