Kehidupan

Jasa Teman Curhat, Psikolog Ingatkan Risiko Self Diagnosis dan Ketergantungan Emosional

Apr 21, 2026 IDOPRESS
Ketiadaan kompetensi dalam layanan ini berpotensi menimbulkan risiko, terutama dalam memahami kondisi psikologis seseorang.

JAKARTA, iDoPress – Layanan teman curhat berbayar kian marak bermunculan di media sosial dan banyak menyasar kalangan muda yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita.

Beragam layanan ditawarkan, mulai dari percakapan melalui pesan singkat hingga sambungan telepon, dengan klaim menjaga kerahasiaan cerita pengguna.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mengenai batasan kemampuan penyedia jasa yang umumnya tidak memiliki latar belakang profesional di bidang kesehatan mental.

Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko, terutama ketika layanan digunakan untuk persoalan emosional yang lebih kompleks.

Psikolog Virginia Hanny menilai layanan teman curhat pada dasarnya dapat menjadi ruang awal bagi seseorang untuk merasa didengar dan tidak sendirian.

Dalam kondisi tertentu, layanan ini masih bisa membantu, terutama untuk kebutuhan emosional yang ringan. Namun, ia menegaskan layanan ini berbeda secara mendasar dengan konseling profesional.

“Perbedaan paling mendasar dari layanan ini dengan peer counselor/konseling profesional ada pada tujuan, kompetensi dan batasan peran,” ujarnya saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, jasa teman curhat umumnya hanya berfokus pada mendengarkan. Sementara itu, konseling profesional dilakukan oleh tenaga yang memiliki pendidikan, pelatihan, serta kemampuan asesmen dan intervensi yang terstruktur.

“Bagi jasa teman curhat, biasanya fokusnya hanya untuk menemani dan mendengarkan tidak ada pelatihan khusus yang diberikan tidak terikat kode etik profesional,” ucapnya.

Risiko salah tafsir dan self-diagnosis

Ketiadaan kompetensi dalam layanan ini berpotensi menimbulkan risiko, terutama dalam memahami kondisi psikologis seseorang.

Virginia mengingatkan, tanpa pelatihan khusus, penyedia jasa bisa saja memberikan pandangan yang tidak sepenuhnya tepat.

“Tanpa adanya pelatihan khusus, seseorang bisa saja memberikan interpretasi atau saran yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dari individu tersebut,” kata dia.

Ia juga menyoroti maraknya fenomena self-diagnosis, ketika seseorang mencoba memahami kondisi dirinya sendiri tanpa pemahaman yang utuh.

Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung hanya menyerap informasi yang sesuai dengan dugaan awalnya dan mengabaikan sudut pandang lain.

“Tidak jarang, beberapa orang akan menyerap informasi yang hanya akan mendukung dugaan awalnya dan mengabaikan informasi lain yang berbeda, di mana hal ini bisa dikategorikan sebagai confirmation bias,” ujarnya.

Akibatnya, alih-alih membantu, hal tersebut justru dapat memicu kecemasan baru atau memperparah kondisi yang sebenarnya belum dipahami secara menyeluruh.

Rentan terpengaruh dan bergantung

Selain risiko salah tafsir, kondisi emosional pengguna juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Virginia menilai seseorang yang berada dalam kondisi rentan cenderung lebih terbuka dan mudah percaya kepada pihak yang memberikan perhatian.

“Dalam situasi emosi yang lebih rentan, seorang individu memang akan cenderung ingin didengar dan dipahami, lebih terbuka kepada mereka yang memberikan perhatian, serta menjadi lebih mudah percaya,” katanya.

Kondisi ini dapat membuka peluang terjadinya ketergantungan emosional, di mana seseorang terus mengandalkan layanan tersebut tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalahnya.

Tidak hanya itu, seseorang juga berpotensi mengikuti saran tanpa pertimbangan yang matang atau terus menggunakan layanan meski sebenarnya sudah tidak diperlukan.

Dalam jangka panjang, ketergantungan pada layanan nonprofesional dapat berdampak pada tidak terselesaikannya masalah secara mendasar.

Virginia menyebutkan, kondisi ini bisa membuat permasalahan justru berulang atau semakin kompleks.

“Dalam jangka panjang, apabila seseorang lebih sering (dan terus-terusan) mengandalkan saran non-profesional untuk masalah emosional yang mendalam, terdapat beberapa hal yang bisa terjadi,” ujarnya.