
JAKARTA, iDoPress – Pengoperasian Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, berangsur-angsur pulih setelah mengalami longsor pada awal Maret 2026.
Hal ini tak lepas dari upaya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI)Jakarta yang melakukan sejumlah langkah strategis agar masalah penanganan sampah segera membaik dan tidak menimbulkan masalah baru.
Beberapa saat usai longsor terjadi, DLH DKI Jakarta sudah melakukan mitigasi dan penyelamatan kepada para korban. Selain melakukan proses evakuasi, DLH juga langsung menutup Zona 4A dan mengalihkan operasionalnya ke Zona 3 dan dua titik baru.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan bahwa pihaknya telah mengoptimalisasi proses distribusi TPST Bantargebang melalui pengaturan sistem kerja serta pembagian tiga sif pengangkutan truk sampah. Tujuannya untuk mencegah waktu tunggu di bawah tiga jam.
“Saat ini, TPST Bantargebang telah kembali normal dengan kapasitas penerimaan mencapai 900 ritase per hari. Kami coba memangkas waktu tunggu. Selain agar tidak membuat antrean panjang, upaya ini juga dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para pengemudi (truk),” kata Asep dalam keterangan yang diterima iDoPress, Selasa (14/4/2026).
Langkah mitigasi keselamatan yang juga diberlakukan, lanjut Asep, adalah dengan menyiapkan sejumlah titik aman bagi sopir dan pemulung jika terjadi hujan deras. Hal ini dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
“Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari peningkatan aspek keselamatan kerja di kawasan TPST Bantargebang,” ucap Asep.
Di sisi lain, Asep juga mengajak para pejabat daerah untuk mendorong Gerakan Pengurangan dan Pilah Sampah dari Sumber kepada masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menyebar ke seluruh masyarakat sebagai bentuk partisipasi dalam pengolahan sampah.
“Langkah ini dinilai menjadi kunci penting untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta secara berkelanjutan,” ujar Asep.
Sebagai informasi, pemberhentian operasional TPST Bantargebang berdampak pada munculnya penumpukan sampah di sejumlah titik. Ratusan truk yang membawa sampah tidak bisa mengeluarkan muatan sehingga menyebabkan antrean sepanjang 5 kilometer (Km).
TPST Bantargebang menerima sebanyak 7.500 ton sampah per hari. Selama 40 tahun beroperasi dan kini kapasitasnya sudah mencapai 80 persen. Sampah yang dikirimkan ke sini berasal dari lima wilayah administrasi di Jakarta serta Kepulauan Seribu.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan berbagai fasilitas pengelolaan sampah, mulai dari tempat pembuangan sementara (TPST) hingga landfill seperti TPST. Di antara keduanya, Pemprov DKI Jakarta juga menghadirkan Refuse Derived Fuel (RDF) plant yang dapat mengolah sampah menjadi material bernilai kalor sebagai bahan bakar alternatif industri.
Ketika TPST Bantargebang mengalami longsor, Asep memaksimalkan kehadiran RDF Plant Bantargebang dan RDF Plant Rorotan untuk menampung sampah sementara.
Asep menjelaskan, selagi perbaikan dilakukan, pengolahan sampah dialihkan ke RDF Plant Bantargebang sebanyak 800 ton. Sedangkan, RDF Plant Rorotan akan mengolah 300 ton sampah yang akan ditingkatkan hingga 750 ton. Kemudian akan ditingkatkan lagi hingga 1.000 ton per hari.
“Kami juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang untuk mengolah sampah sebanyak 100 ton. Dari upaya pengalihan ini, total sampah yang dapat tertangani hingga akhir pekan adalah 6.700 ton sampai 7.150 ton dari rata-rata sampah harian di Jakarta, yaitu 7.400 ton sampai 800 ton," jelas Asep.
Upaya ini, imbuh Asep, dilakukan untuk membantu mengolah sekaligus menjaga stabilitas pengolahan sampah agar tetap berjalan optimal. Ia menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari pemulihan operasional TPST Bantargebang dengan tetap menjaga layanan publik.
“Pengoperasian RDF Plant Rorotan merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan layanan pengolahan sampah tidak terganggu. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kapasitas pengolahan sampah Jakarta selama masa pemulihan. Dengan berbagai langkah dan penanganan yang dilakukan, kami berharap agar operasional pengolahan TPST Bantargebang dapat kembali normal,” kata Asep.
Dalam upaya mempersiapkan RDF Plant Rorotan, DLH Jakarta berkomitmen menjaga aspek lingkungan melalui penguatan sistem pengendalian bau. Selain itu, DLH Jakarta juga akan memperkuat koordinasi lintas unit untuk memastikan integrasi pengelolaan di hulu (sumber sampah), tengah (RDF Plant Rorotan dan Bantargebang), serta hilir (TPST Bantargebang) berjalan lebih efektif.
“Kami fokus untuk double check terkait kesiapan RDF Plant Rorotan untuk mengolah sampah. Selain itu, kami juga memantau pengendalian dan penguatan sistem kontrol untuk memastikan kualitas output RDF tetap terjaga. Di luar itu, kami juga menjaga koordinasi dengan Tim Kerja Pemantau Kegiatan Pengelolaan RDF Plant Rorotan. Saya berharap tim tersebut terus memberikan masukan agar pengelolaan fasilitas ini semakin baik,” jelas Asep. (Rindu Pradipta Hestya)
iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang