Keuangan

Pengeluaran Gen Z Jakarta Tembus Rp 11,9 Juta, PayLater Jadi Penolong atau Beban?

Jul 18, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Generasi Z (Gen Z) di DKI Jakarta rata-rata menghabiskan pengeluaran hingga Rp 11,96 juta setiap bulan pada 2025.

Menariknya, porsi terbesar pengeluaran tersebut bukan untuk makanan, melainkan kebutuhan nonmakanan yang mencapai lebih dari Rp 7,14 juta per bulan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta ini menggambarkan bahwa pola konsumsi anak muda ibu kota semakin didominasi kebutuhan di luar pangan, mulai dari biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, hingga pembelian barang penunjang gaya hidup dan pekerjaan.

Di sisi lain, tekanan biaya hidup tersebut hadir ketika sebagian anak muda masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan yang stabil.

Kondisi ini kemudian mendorong semakin banyak generasi muda memanfaatkan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater sebagai alat untuk mengatur arus kas.

Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta pada 2025 mencapai Rp 11.969.830 per bulan.

Dari jumlah tersebut, pengeluaran nonmakanan mencapai Rp 7.142.427, sedangkan pengeluaran makanan sebesar Rp 4.827.403.

"Rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp 15.168.533 per bulan, sedangkan yang terendah berada di Kepulauan Seribu sebesar Rp 6.082.246 per bulan," kata Kadarmanto dalam informasi yang diterima iDoPress, Rabu (15/7/2026).

Data BPS juga memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi kelompok usia muda di pasar tenaga kerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–29 tahun pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 30–59 tahun yang sebesar 3,25 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, TPT perempuan muda mencapai 13,90 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki sebesar 13,46 persen.

Sementara itu, sebanyak 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan lebih fluktuatif.

PayLater menjadi jembatan arus kas

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai meningkatnya penggunaan PayLater di kalangan anak muda tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor.

Menurut dia, terdapat tiga lapis penyebab yang saling berkaitan, yakni desain produk yang mudah diakses, kondisi ekonomi pengguna, serta kesenjangan antara akses layanan keuangan dan tingkat literasi keuangan masyarakat.

"PayLater merupakan kredit yang dibuat sangat mudah untuk diakses dan ditempatkan langsung di halaman pembayaran. Konsumen tidak perlu datang ke bank atau melalui proses panjang. Cukup beberapa kali klik, barang langsung diterima, sementara pembayarannya dilakukan kemudian," kata Adrian saat dihubungi.

Dalam perspektif ekonomi perilaku, kemudahan tersebut mengurangi pain of paying, yakni rasa kehilangan ketika seseorang mengeluarkan uang secara langsung.

Selain itu, terdapat pula fenomena present bias, yakni kecenderungan manusia lebih menghargai kepuasan saat ini dibandingkan kewajiban di masa mendatang.

Di sisi lain, banyak anak muda baru memasuki dunia kerja dengan pendapatan yang belum tinggi atau masih berfluktuasi.

"Mereka harus membayar transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. PayLater kemudian dipakai untuk menjembatani kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang baru diterima di masa depan," ujar dia.

Adrian menambahkan, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan baru 66,46 persen.

Pada kelompok usia 18–25 tahun, kesenjangannya bahkan lebih besar. Indeks inklusi keuangan mencapai 89,96 persen, sementara literasi keuangan sebesar 73,22 persen.