
JAKARTA, iDoPress - Wahyuni (30) dan Elsa (30), dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang tengah hamil tetap mengikuti Pembekalan Bela Negara dan Manajerial calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Dua perempuan asal Riau itu dilatih di Pusat Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat, Kramat Jati, Jakarta Timur, bersama 226 peserta SPPI lainnya sejak 17 Juni 2026.
Selama dua pekan terakhir ditempa, keduanya mengaku mendapat perlakuan khusus selama mengikuti pembekalan.
Wahyuni mengatakan, kondisi kesehatannya tetap terjaga karena peserta hamil mendapat pemantauan kesehatan setiap hari.
“Kami merasa kondisi kami sangat baik karena untuk pembina dan para komandan di sini sangat-sangat memperhatikan kami. Mulai dari setiap hari, kami dicek kesehatan. Kami ada untuk medis khusus, yaitu hamil,” kata Wahyuni saat ditemui di Pusat Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/6/2026).
“Setiap hari kami dicek kesehatan dari pagi, siang, malam itu ditanya, dicek bagaimana kondisi. Kemudian per 2 atau 3 hari (sekali) kami harus datang ke obgyn untuk dicek kembali, seperti itu,” tambah dia.
Wahyuni mengungkapkan, dia belum mengetahui sedang hamil saat mengikuti seluruh tahapan seleksi SPPI, termasuk tes kesehatan.
Ia baru mengetahui kehamilannya setelah dinyatakan lulus seleksi. Baik Wahyuni maupun Elsa melakukan tespak usai pengumuman.
“Bukan, bukan dari hasil tes (kesehatan mengetahui hamil), sesudah tes kesehatan. Pada saat tes kesehatan kan belum diketahui hamil. (Tahunya) sebelum kami berangkat ke sini. Waktu pengumumannya,” ujar dia.
“Periksa sendiri. Iya (tespak),” timpal Elsa.
Setelah mengetahui dirinya hamil, Wahyuni dan Elsa langsung melaporkan kondisinya kepada penyelenggara sebelum berangkat mengikuti pembekalan.
Meski tengah mengandung, Wahyuni memilih tetap mengikuti program tersebut karena merasa telah melewati proses seleksi yang panjang.
Keputusan itu juga telah mendapat persetujuan suaminya.
“Alasannya karena ya kita kan sudah lulus, kita sudah melakukan tes tahap demi tahap, sudah panjang, dan ini sudah penentu kelulusan, makanya kami tetap datang,” jawab Wahyuni saat ditanya tetap ikut pembekalan meski mengetahui tengah hamil.
Selama pembekalan, Wahyuni mengaku tidak diwajibkan mengikuti latihan yang bersifat fisik.