
JAKARTA, iDoPress - Mengisap berbatang-batang rokok sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan oleh siswa perokok.
Rokok tidak hanya menarik perhatian siswa yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tetapi juga pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Dasar (SD).
Salah satu pelajar SMK, Dhea (16), mengaku telah kecanduan rokok sejak berusia 13 tahun. Kebiasaan itu bermula setelah ia melihat teman-teman sebayanya merokok.
Bagi Dhea, kandungan nikotin dalam rokok menyisakan rasa manis, sehingga membuatnya terus kecanduan sampai saat ini.
Dalam satu hari, pelajar SMK itu bisa menghabiskan sekitar lima batang rokok yang dibeli dengan harga Rp 10.000.
Sebenarnya, ia menyadari merokok bisa mendatangkan banyak bahaya untuk kesehatan tubuhnya dalam jangka panjang.
"Tahu menyebabkan sakit, pernah sakit dada juga kayak sesak gitu. Cuma tetap merokok karena sudah ketagihan," ucap dia ketika ditemui iDoPress di wilayah Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).
Pelajar lain, Ucup (14), juga mengaku pernah mengalami sesak dada dan mudah terserang batuk ketika terlalu sering merokok.
Meski demikian, ia mengaku tidak mampu menahan diri untuk tidak merokok meski hanya sehari.
"Enggak bisa udah pernah coba mau berhenti, karena abis makan mulut langsung terasa asam," tutur dia ketika ditemui di wilayah Jakarta Selatan, Rabu.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Respirologi dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya, Fahreza Aditya Neldy, mengatakan bahwa persoalan merokok di kalangan pelajar bukan lagi masalah sepele, melainkan persoalan serius yang harus ditangani dengan baik.
Ia menilai, anak-anak dan remaja masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga organ-organ tubuh mereka belum mencapai perkembangan maksimal.
Karena itu, kebiasaan merokok pada usia sekolah dapat mengganggu pertumbuhan dan menghambat tercapainya perkembangan optimal anak maupun remaja.
"Setidaknya ada dua organ penting yang terdampak langsung, yakni paru dan otak. Organ paru remaja perokok akan mengalami penurunan pertumbuhan Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) sekitar sembilan mililiter per tahun," ungkap Fahreza dalam keterangan tertulisnya yang diterima iDoPress, Rabu.
Menurut dia, dampak terhadap paru-paru bahkan lebih besar pada anak perempuan, yakni sekitar 31 mililiter per tahun.
FEV1 merupakan volume udara yang dapat diembuskan secara paksa dalam satu detik pertama setelah seseorang menarik napas sedalam-dalamnya.
Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019, sebanyak 19,2 persen pelajar berusia 13 hingga 15 tahun menggunakan produk tembakau. Sementara itu, sekitar 38,3 persen anak laki-laki berusia 13 hingga 15 tahun di Indonesia telah merokok.
Fahreza bilang, jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Namun di balik itu semua, ada hal yang lebih serius, yaitu persepsi orang terhadap rokok.