
BOGOR, iDoPress -Pemilik lahan pertanian di Kayu Manis, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Andriawan (42), mengaku mengalami gagal panen sebanyak dua kali selama musim kemarau tahun ini.
Lahan pertanian seluas dua hektare yang dikelolanya untuk menanam jagung, kangkung, bayam, dan singkong itu mengalami gagal panen sejak awal Juni 2026 akibat kekeringan.
"Kalau lagi gini (musim kemarau), kalau emang kurang air, ya pasti gagal (panen). Ya paling di sini dua kali lah, dari Juni (2026) lah. Enggak semuanya (gagal panen), dari persentasenya paling 20 persen, 30 persen lah dari 100 persen," kata Andriawan saat ditemui iDoPress di Kayu Manis, Rabu (22/7/2026).
Akibat dua kali gagal panen itu, Andriawan mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
"Hampir sekarang doang hampir Rp 40 Juta kita udah kerugiannya," ujar dia.
Andriawan yang telah menggarap lahan tersebut selama sekitar lima tahun itu mengatakan, dirinya selalu menyiapkan tabungan untuk mengantisipasi musim kemarau yang berpotensi menyebabkan gagal panen.
Menurut dia, petani umumnya sudah dapat memperkirakan datangnya musim kemarau sehingga harus mempersiapkan biaya operasional yang lebih besar.
"Kalau petani itu harus biasa memprediksi, 'oh, bulan segini kemarau'. Soalnya biayanya membengkak untuk dasarnya pekerja itu, yang tadinya ibarat satu jadi banding tiga gitu keluarnya," jelasnya.
Andriawan mengungkapkan, pendapatan dari hasil pertanian bergantung pada jumlah panen dan stabilitas harga. Saat kondisi normal, ia bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.
Namun, saat musim kemarau, pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk membayar upah pekerja dan biaya jasa penyiraman atau yang biasa disebut boyor, sekitar Rp 2,5 juta.
"Paling segitu Rp 2,5 Juta, habis buat pekerja lagi. Makanya kita harus nabung biar yang kerja pada hidup," ungkapnya.
Untuk mempertahankan lahannya tetap produktif, Andriawan mengeluarkan biaya Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per hari untuk setiap pekerja. Saat ini, ia mempekerjakan sekitar 15 buruh tani.
Selain itu, ia juga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 300.000 hingga Rp 1 juta untuk jasa boyor atau penyiraman lahan dari air di sungai.
Menurut Andriawan, jasa boyor dilakukan dengan memompa air dari aliran Sungai Angke lalu mengalirkannya melalui selang ke lahan pertanian. Penyiraman dilakukan sekitar tiga hari sekali sebagai upaya mencegah tanaman kembali gagal panen.
"Sehari itu hampir Rp 1 Juta lebih, kayak gini (menunjuk salah satu area lahan) kan enggak masuk irigasi, pinter-pinter kita ngelolanya," ungkapnya.