Bisnis

5 Rumah Retak karena Jalan Ambles di Jaktim, Warga: Ngeri Lagi Tidur Ambruk

Jul 7, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Sebanyak lima rumah terdampak jalan ambles di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, yang telah terjadi sejak Maret 2026.

Jalan ambles tersebut menyebabkan tembok dan teras rumah mengalami keretakan yang cukup lebar. Akibatnya, warga berinisiatif menambal kerusakan secara mandiri.

"Sebelumnya enggak begini. Enggak ada retak begini. Karena itu kali ya, beban berat kali ya. Beban berat itu kan, beko kan berat banget kayak berapa ton gitu," tutur Pokniah salah satu warga, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, retakan pada rumah membuat warga khawatir, terutama saat hujan deras turun.

"Kekhawatirannya ngerinya kalau saya lagi tidur gitu kan, hujan gede gitu kan, kayaknya ngerinya gitu. Nanti waswas takut ambruk gitu," kata Pokniah.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan untuk memperbaiki rumah warga agar kembali aman dan tidak lagi menimbulkan kekhawatiran.

"Semoganya kepenginnya dibetulinlah. Tapi enggak tahu. Gitu. Semuanya sudah lapor ke lurah," ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Pulogadung, Ariyanto, membenarkan adanya kerusakan pada sejumlah rumah di sekitar lokasi jalan ambles.

"Ada yang retak bahkan baru saya dapat di malam itu setelah kami turun ke wilayah peninjauan, memang ada laporan dari warga yang menyatakan ada beberapa rumah yang terdampak terjadi keretakan," ucap Ariyanto saat ditemui di lokasi.

Kendati demikian, Ariyanto mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah keretakan tersebut merupakan dampak langsung dari jalan ambles atau disebabkan faktor lain.

"Tapi memang saya tidak bisa memastikan apakah itu memang imbas juga dari kejadian longsor ini atau memang ada teknis lain ya. Memang mesti digali lagi informasi tersebut," kata Ari.

Sebelumnya, amblesnya Jalan Cinta, Pulogadung, Jakarta Timur, diduga disebabkan aktivitas pengerukan Kali Sunter menggunakan alat berat.

Ketua RT 11/RW 03, Warjo Prianto, mengatakan, saat pengerukan berlangsung, alat berat tidak beroperasi di dalam Kali Sunter, melainkan berada di atas jalan yang menjadi akses warga.

"Beko (ekskavator) di jalan, enggak masuk ke dalam air. Kan itu berat, tapi di jalan akses warga," kata Warjo saat ditemui di lokasi, Senin (6/7/2026).

Pengurus lingkungan sempat menegur para pekerja agar mengeruk menggunakan alat berat terapung.

"Waktu sebelum kejadian, kami pengurus sudah berkoordinasi dengan Pak RW, pihak kelurahan, pihak SDA untuk memperingati, artinya untuk pemberhentian sementara apabila proyek pengerukan kali tersebut akan dijalankan, saya mohon agar menggunakan beko apung," kata dia.

Jalanan tersebut telah rusak selama sekitar lima bulan dan hingga kini belum diperbaiki oleh pemerintah.

"Kemungkinan ini udah 90 derajat kemiringan jalannya," kata dia.

Sudah ada beberapa pengendara yang terjatuh saat melintasi jalan tersebut. Saat ini, jalan yang dapat dilalui hanya tersisa sekitar 1 meter.

iDoPress berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung iDoPress Plus sekarang