Bisnis

Galundeng vs Croissant: Pertarungan Cita Rasa Lokal dan Asing di Lidah Generasi

May 7, 2026 IDOPRESS
Galundeng di Pasar Ikan Jatinegara jadi buruan Gen Z. Kue tradisional Rp 2.000 ini bahkan disebut lebih nikmat daripada croissant.

JAKARTA, iDoPress - Di tengah ramainya Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur, seorang gen Z bernama Rizal (26) hampir dua hari sekali rutin datang, tetapi bukan untuk membeli ikan.

Ditemani sang istri, pemuda tersebut sengaja datang ke Pasar Ikan Jatinegara di atas pukul 22.00 WIB untuk berburu makanan tradisional, yakni kue bantal atau yang disebut galundeng.

Ia rela menempuh jarak sekitar lima kilometer (km) dengan sepeda motornya untuk sekedar membeli galundeng yang dijual di dalam gerobak kaca tua berwarna cokelat miliki Suyatno (60).

Tak hanya membeli satu kue seharga Rp 2.000, Rizal mengaku kerap menghabiskan puluhan ribu rupiah untuk membeli galundeng.

"Sering banget sih. Tapi kalau beli, suka kalap ya, sampai Rp 20.000 kadang," tutur Rizal ketika ditemui iDoPress di lokasi, Kamis (7/5/2026).

Rizal bercerita, dirinya pertama kali bertemu Suyatno saat sedang makan di warung kaki lima di wilayah Kampung Melayu Kecil, Jakarta Timur.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Pendapat sejumlah Gen Z tentang rasa kue bantal versus roti kekinian croissant.

Saat itu, ia yang sejak kecil gemar menyantap kue bantal langsung tertarik membeli dagangan Suyatno yang melintas.

"Akhirnya beli tuh, istri juga baru nyobain, ternyata istri juga ketagihan," sambung dia.

Sambil membeli, istri Rizal sempat bertanya tempat mangkal Suyatno. Ternyata, pedagang tersebut biasa berjualan di depan Pasar Ikan Jatinegara.

Seminggu kemudian, Rizal kembali datang bersama istrinya untuk mencari Suyatno. Sejak saat itu, ia menjadi pelanggan tetap galundeng dan rutin datang ke Pasar Ikan Jatinegara setiap dua hari sekali.

Makin gosong, makin nikmat

Rizal mengaku menyukai galundeng karena rasanya manis, tetapi tidak berlebihan. Meski dibaluri gula merah di bagian luar, kue buatan Suyatno tetap kering dengan tekstur yang sangat empuk.

Menurut dia, tampilan kue yang sedikit gosong justru membuat rasanya semakin nikmat karena lebih renyah dan cita rasa gula merahnya lebih kuat.

Selain rasanya yang enak, galundeng juga mengingatkannya pada masa kecil. Dulu, Rizal sering menunggu pedagang galundeng yang setiap hari melintas di depan rumahnya.

Namun, seiring waktu, penjual kue tradisional itu semakin langka dan jarang ditemui di lingkungan tempat tinggalnya.

Oleh karena itu, ia merasa begitu gembira ketika tahu masih ada pedagang kue bantal di Jakarta.

Dinilai lebih enak dari croissant

Saking menyukai galundeng, pria tersebut menilai bahwa kue bantal ini rasanya tak kalah enak dengan pastry kekinian seperti croissant.

"Rasanya beda. Kalau saya pribadi ya karena mungkin orang sederhana atau orang kampung, tapi emang galundeng lebih enak rasanya dari croissant," ungkap Rizal.

Sebab, tekstur galundeng dinilai lebih empuk atau pas untuk dimakan, dibandingkan croissant yang lebih kering.

Ditambah lagi, kue galundeng buatan Suyatno tetap empuk meski sudah didiamkan semalaman.

Pasalnya, Rizal sering membeli kue bantal Suyatno pada malam hari untuk dijadikan sebagai sarapan pendamping kopi pada pagi hari.