
JAKARTA, iDoPress — Layanan teman curhat berbayar kini semakin diminati di kalangan anak muda di tengah padatnya interaksi media sosial yang justru kerap membuat sebagian orang merasa kesepian dan tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Di balik tren tersebut, muncul pola yang menarik yakni kebutuhan untuk didengar kini tidak lagi selalu datang dari lingkar pertemanan terdekat, melainkan juga dari orang asing yang menawarkan “ruang aman” dengan imbalan tertentu.
Salah satu penyedia jasa, Raina (26), membuka gambaran paling konkret dari layanan ini lewat skema tarif yang ia terapkan.
“Tarifnya Rp 15.000 untuk satu jam melalui chat atau voice note, untuk dua jam Rp 25.000. Kalau telepon Rp 35.000. Ada juga 12 jam dan satu hari penuh itu Rp 50.000 dan 150.000,” jelas Raina melalui pesan WhatsApp, Senin (20/4/2026).
Dari sana terlihat bahwa layanan curhat tidak lagi bersifat spontan atau informal, melainkan sudah memiliki struktur harga yang disesuaikan dengan durasi dan bentuk komunikasi.
Raina mengaku tidak sejak awal berniat membuka jasa tersebut. Kebiasaan menjadi tempat curhat teman-temannya justru menjadi pintu masuk.
“Meski enggak punya background, saya berusaha belajar sendiri kayak baca-baca soal komunikasi, empati,” kata Raina.
Dari situ, ia mulai melihat bahwa kebutuhan untuk didengar ternyata tidak selalu bisa tertampung dalam relasi pertemanan biasa.
Hingga akhirnya pada awal 2024, ia memutuskan membuka layanan tersebut secara lebih formal.
Meski begitu, keputusan itu tidak datang tanpa keraguan.
Tanpa latar belakang psikologi, ia sempat mempertanyakan kemampuannya menghadapi beban cerita orang lain.
“Kadang saya sendiri ikut kebawa. Kalau sudah berat banget, saya biasanya lebih hati-hati dalam respon. Enggak mau asal ngomong,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Raina mulai menyadari bahwa layanan ini tidak hanya soal mendengarkan, tetapi juga soal menjaga batas diri.
Ia kini lebih selektif dalam menangani kasus-kasus yang dianggap terlalu berat secara emosional, dan memilih mengarahkan klien ke bantuan profesional.
“Misalnya kalau sudah masuk ke arah yang sangat berat secara mental, saya biasanya pelan-pelan arahkan ke profesional. Bukan karena enggak mau bantu, tapi saya sadar kapasitas saya ada batasnya,” kata dia.