
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
KETIKA orang Jawa lama melafalkan sapa gawe nganggo atau ngunduh wohing pakarti, yang mereka tekankan bukan sekadar hukum sebab-akibat yang kaku.
Ada pengakuan yang lebih subtil: hidup sering bergerak lebih lambat daripada nalar manusia, dan justru di celah waktu itulah kepercayaan diuji.
Kebijaksanaan Jawa menarik karena tidak pernah hadir dengan palu hakim. Ia enggan terburu-buru menunjuk siapa benar dan siapa salah.
Di balik ketenangannya, tersimpan pesan yang relevan bagi publik hari ini: jangan tergesa menutup perkara dengan vonis, sebab kadang yang lebih penting adalah memberi ruang bagi proses untuk berbicara.
Mungkin karena itulah, di tengah ramainya pemberitaan mengenai vonis 10 tahun penjara terhadap Nadiem Makarim dalam perkara Chromebook, yang paling menarik justru bukan bunyi palu hakim.
Yang menarik adalah suasana setelahnya. Putusan telah dibacakan. Namun keraguan publik ternyata belum ikut selesai.
Sebagian masyarakat menganggap perkara telah terang-benderang.
Sebagian lain merasa masih ada ruang yang belum sepenuhnya terjelaskan.
Bahkan adanya dissenting opinion dari salah satu hakim memperlihatkan, pembacaan atas fakta tidak hadir dalam satu suara yang sepenuhnya tunggal.
Di titik inilah pertanyaan yang lebih besar muncul. Mengapa pada era dengan limpahan informasi, masyarakat justru semakin sering hidup dalam ketidakpastian makna?
Dalam dua dekade terakhir, kelas menengah Indonesia tumbuh bersama keyakinan tertentu: pendidikan membuka jalan, meritokrasi memberi peluang, inovasi menghadirkan perubahan.
Di dalam narasi itu, figur seperti Nadiem Makarim hadir bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai simbol.
Simbol memiliki karakter yang berbeda dari manusia biasa. Ia tidak hanya dinilai berdasarkan tindakannya, tetapi juga berdasarkan harapan yang dilekatkan kepadanya.
Psikolog Daniel Kahneman menjelaskan, manusia cenderung menilai dunia melalui cerita yang koheren, bukan melalui kumpulan fakta yang terpisah-pisah.
Otak mencari konsistensi, bahkan ketika realitas tidak selalu menyediakan konsistensi tersebut.
Temuan ini terus diperkuat oleh berbagai riset psikologi kognitif beberapa tahun terakhir yang menunjukkan, individu lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan awalnya dibandingkan informasi yang mengguncang konstruksi mental yang telah mapan.
Maka ketika seorang figur yang diasosiasikan dengan inovasi, pendidikan, dan masa depan kemudian berhadapan dengan putusan korupsi, yang terguncang tidak hanya reputasi personal.
Yang ikut terguncang adalah cerita kolektif yang pernah dibangun masyarakat di sekeliling figur tersebut.
Fenomena ini dekat dengan apa yang dalam psikologi sosial disebut halo effect: kecenderungan menganggap seseorang memiliki kualitas moral tertentu hanya karena ia dianggap kompeten, cerdas, atau sukses dalam bidang lain.