Seni

Saat Bahan Baku Naik, Pancong Yaya Pilih Ubah Resep daripada Bebani Pelanggan

Jun 9, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Di tengah harga bahan baku yang terus naik dan persaingan kuliner yang semakin ketat, tidak banyak usaha makanan yang mampu bertahan lebih dari enam dekade.

Namun, Pancong Yaya di kawasan Menteng Sukabumi, Jakarta Pusat, masih berdiri hingga kini setelah melewati tiga generasi pengelola.

Bagi banyak pelanggan, daya tarik Pancong Yaya mungkin terletak pada lokasinya yang berada di tepi rel kereta atau suasana nongkrong yang khas.

Namun di balik keberlangsungan usaha yang telah berjalan sejak 1961 itu, terdapat berbagai penyesuaian yang dilakukan keluarga pengelola agar harga jual tetap terjangkau.

Salah satu perubahan yang paling mendasar justru terjadi pada bahan utama adonan pancong.

Penerus generasi ketiga Pancong Yaya, Asep Udin Juliansah (27), mengatakan resep pancong yang diwariskan dari generasi pertama memang tidak sepenuhnya sama dengan yang digunakan saat ini.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah pengunjung duduk berjejer di area lesehan Warung Pancong Yaya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Menurut Asep, sang kakek, Aki Darya atau Yaya, dahulu menggunakan telur bebek sebagai salah satu bahan adonan pancong.

Namun seiring berjalannya waktu, keluarga memutuskan menggantinya dengan telur ayam.

Perubahan itu dilakukan sejak generasi kedua mengelola usaha.

"Dulu kata bokap saya, kakek pakai telur bebek. Sekarang pakai telur ayam biasa," ujar Asep saat ditemui, Jumat (5/6/2026).

Ia mengakui keputusan tersebut tidak lepas dari pertimbangan biaya produksi.

Harga telur bebek yang lebih mahal dibanding telur ayam membuat biaya pembuatan pancong meningkat, terutama ketika penjualan sedang tidak stabil.

Karena itu, keluarga memilih melakukan penyesuaian bahan baku ketimbang membebankan seluruh kenaikan biaya kepada pelanggan melalui harga jual.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi bertahan yang dijalankan Pancong Yaya selama puluhan tahun.

Tekanan biaya produksi sebenarnya masih terus dirasakan hingga sekarang.

Menurut Asep, harga berbagai bahan baku seperti tepung terigu, gula, dan telur mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Seporsi kue pancong lumer yang disajikan dengan variasi topping es krim kombinasi cokelat, stroberi, dan vanila di Warung Pancong Yaya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Pancong Yaya sempat menaikkan harga jual sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per menu.

Namun respons pelanggan membuat mereka kembali mengevaluasi kebijakan tersebut.

"Pernah dinaikkan, tapi pelanggan banyak yang mengeluh. Akhirnya sebagian malah kami turunkan lagi," kata Asep.

Bagi keluarga pengelola, menjaga keterjangkauan harga menjadi hal penting karena sebagian besar pelanggan telah mengenal Pancong Yaya sejak lama.

Saat ini harga pancong masih berada pada kisaran Rp 4.000 hingga Rp 16.000 per porsi, tergantung varian yang dipilih.

Sementara menu lain seperti pisang bakar, mi instan, seblak, hingga nasi telur dijual mulai sekitar Rp 9.000 hingga Rp 30.000.

Bertahan dengan beradaptasi

Pancong Yaya berdiri di Jalan Menteng Sukabumi Gang 1, Jakarta Pusat, tepat di tepi lintasan kereta jalur Sudirman-Manggarai.

Usaha tersebut dirintis Aki Darya pada 1961 dengan menggunakan gerobak sederhana.

Seiring waktu, usaha berkembang dari berjualan keliling menjadi menyewa tempat sebelum akhirnya menempati lokasi saat ini.

Kini, setelah sekitar 65 tahun beroperasi, Pancong Yaya telah dikelola generasi ketiga.