
JAKARTA, iDoPress - Ketua Umum Melbourne Bergerak, Ulya Niami Jamson, mengungkap kisah seorang dosen yang disamarkan dengan nama Libra untuk menggambarkan kondisi dosen yang belum sejahtera akibat rendahnya gaji yang diterima.
Ulya menyampaikan kisah itu saat memberikan keterangan secara daring dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Libra merupakan dosen berusia 37 tahun yang sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di salah satu universitas ternama di Melbourne.
Menurut Ulya, Libra menjadi gambaran dari target pemerintah yang tengah mendorong pembangunan World Class University di Indonesia.
"Katanya perguruan tinggi di Indonesia saat ini sangat getol merekrut calon dosen yang berlatar belakang sedang atau sudah bergelar S3 dari universitas ternama di luar negeri. Tujuannya untuk mengejar prestise sebagai world class university," ujar dia.
Namun, harapan untuk mengabdi di dunia akademik berbanding terbalik dengan pendapatan yang diterima.
“Ironisnya, Libra hanya menerima gaji pokok sebesar Rp 2.345.000 setiap bulan, sebagaimana bukti P6,” ujar Ulya.
Jumlah itu dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama bagi dosen yang sudah berkeluarga.
“Kata Libra, sialnya di Indonesia uang segini mah enggak cukup. Boro-boro ngontrak rumah, paling cukup buat makan doang,” ungkap dia.
Kondisi tersebut membuat Libra harus mencari pekerjaan tambahan sebelum kembali ke Indonesia tahun ini.
“Libra bercerita seorang temannya misalnya, menerima gaji pokok sebesar Rp 4 juta per bulan sebagaimana bukti P7, meski sudah berkarier selama 15 tahun sebagai dosen ASN PTN BH di Surabaya. Padahal UMR Surabaya per 2026 adalah sebesar Rp 5.300.000,” jelas dia.
Selain Libra, Ulya juga menceritakan kisah Sagi (bukan nama sebenarnya), perempuan 27 tahun yang sedang menempuh studi S2 di The University of Melbourne.
Sebelum kuliah, Sagi bekerja sebagai peneliti dan bercita-cita menjadi dosen.
Namun, ia mengurungkan niatnya karena menilai gaji dosen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Ulya, Sagi menyadari menjadi dosen dengan gaji rendah akan memaksanya mencari pekerjaan sampingan sehingga sulit fokus pada dunia akademik.