Seni

Jembatan Dua Zaman: Kisah Gen Z dan Penonton Nostalgia di Bangku Wayang Orang Bharata

May 25, 2026 IDOPRESS

JAKARTA, iDoPress - Eksistensi Wayang Orang Bharata sebagai kesenian tradisional menunjukkan kemampuannya menembus batas usia penonton dari dua generasi berbeda di tengah dominasi hiburan digital yang semakin masif.

Bagi generasi muda, pengenalan terhadap seni tradisi yang dulu terasa jauh kini justru banyak dijembatani oleh algoritma media sosial.

Potongan video singkat yang dikemas secara estetik di platform digital perlahan mengikis stigma bahwa wayang orang adalah kesenian kuno, sekaligus memunculkan rasa penasaran untuk menyaksikannya langsung di gedung pertunjukan.

Pengalaman itu dirasakan Nadia Putri (23). Ia mengaku telah mengenal istilah wayang orang sejak kecil, tetapi hanya sebatas cerita dari orangtuanya.

Persepsinya berubah ketika tanpa sengaja melihat cuplikan pertunjukan Wayang Orang Bharata di media sosial.

Visual yang menurutnya megah dan menarik membuat rasa penasarannya tumbuh hingga akhirnya memutuskan datang langsung ke pertunjukan.

Setelah menyaksikannya secara langsung, Nadia merasakan pengalaman yang jauh berbeda. Menurut dia, duduk di kursi penonton memberi kesan tersendiri karena bisa melihat langsung kemampuan pemain dalam menari, berdialog, dan mengekspresikan karakter secara utuh.

"Waktu itu dapat tiket di row bawah rasanya kagum karena pemainnya bisa nari, dialog, dan ekspresinya kuat banget. Jadi bukan cuma sekadar nonton cerita, tapi juga melihat proses seni di atas panggung," kata Nadia saat dihubungi melalui pesan Instagram, Sabtu (23/5/2026).

Pengalaman pertama itu membuat Nadia jatuh cinta dan mulai membuka diri terhadap pertunjukan wayang orang sebagai tontonan yang layak diikuti lebih dari sekali.

“Dulu saya enggak pernah kepikiran buat datang lagi setelah sekali nonton, tapi ternyata malah jadi pengin balik lagi karena tiap cerita beda suasananya," kata dia.

Daya Tarik Panggung yang Hidup dan Totalitas Pemain

Bagi Nadia, kekuatan utama wayang orang terletak pada pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya tergantikan oleh media digital.

Ia menilai perpaduan musik gamelan, ekspresi pemain, dan atmosfer panggung menciptakan pengalaman yang jauh lebih hidup dibandingkan menonton lewat layar ponsel.

“Kalau di media sosial atau streaming kan kita cuma lihat lewat layar, sementara wayang orang itu kita bisa lihat langsung energi pemainnya, ekspresi, suara gamelan, sampai suasana panggungnya," ujar dia.

Salah satu hal yang paling membekas baginya adalah suasana pertunjukan secara langsung. Ia mengaku kagum dengan totalitas para pemain yang tampil penuh di atas panggung.

Selain itu, detail kostum, tata rias, hingga dinamika dialog antartokoh membuat emosi pertunjukan terasa naik turun dan tidak monoton.

“Yang paling saya suka itu suasana live-nya. Begitu gamelan mulai dimainkan terus pemain masuk dengan kostum lengkap, rasanya merinding sih,” ucapnya.

Media Sosial sebagai Pintu Masuk Generasi Baru

Nadia menilai media sosial memiliki peran penting dalam memperkenalkan wayang orang kepada generasi muda.

Menurutnya, banyak anak muda pertama kali mengenal suatu pertunjukan justru melalui konten pendek di platform digital.

Potongan video, cuplikan adegan, hingga konten di balik layar, menurut Nadia, bisa menjadi jembatan yang membuat generasi muda merasa lebih dekat dengan seni tradisional.

“Karena kebanyakan anak muda pertama kali tahu sesuatu pasti dari media sosial. Bahkan saya sendiri pertama kali tertarik wayang orang juga karena lihat kontennya," kata dia.

Meski begitu, ia menilai tantangan terbesar wayang orang adalah persepsi awal anak muda yang masih menganggapnya sebagai tontonan kuno atau tidak relevan.

Padahal, menurut dia, pandangan itu biasanya berubah setelah mereka menyaksikan langsung pertunjukan.

"Karena wayang orang itu bukan cuma hiburan tapi juga identitas budaya Indonesia. Di situ ada cerita, nilai hidup, bahasa, musik tradisional, sampai filosofi yang enggak bisa ditemukan di tempat lain," ujarnya.

Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha Pertunjukan Wayang Orang Baratha di Gedung Kesenian Wayang Orang Baratha, Senen, Jakarta PusatJejak Nostalgia Generasi Lama

Jika generasi muda seperti Nadia datang ke Wayang Orang lewat layar ponsel, penonton generasi sebelumnya seperti Dewi (42) justru menemukan kembali panggung itu melalui ingatan masa kecil.Bagi Dewi, wayang orang bukan hal baru, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang sempat hilang lalu kembali ia temukan di tengah perubahan zaman.Ia mengenal wayang orang sejak kecil karena kebiasaan orangtuanya yang kerap mengajak menonton pertunjukan.Namun, kesibukan saat remaja hingga dewasa membuatnya lama tidak kembali ke gedung pertunjukan.Setelah bertahun-tahun, ia kembali datang karena dorongan nostalgia dan rasa ingin tahu apakah Wayang Orang Bharata masih bertahan.