
JAKARTA, iDoPress - Jika biasanya ibu rumah tangga atau emak-emak identik dengan aktivitas di dapur, pemandangan berbeda justru terlihat di lapak hewan kurban di Kolong Tol Ir. Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Di lokasi itu, sejumlah ibu rumah tangga sibuk menyambut dan melayani calon pembeli sapi. Mereka ternyata bekerja sebagai sales promotion girls (SPG) hewan kurban di lapak milik pedagang bernama Kastono (51).
Tugas mereka bukan sekadar berdiri di depan lapak. Para emak-emak ini aktif menawarkan, menjelaskan jenis-jenis sapi, hingga membantu meyakinkan calon pembeli.
Strategi pemasaran yang tak biasa ini pun menuai perhatian. Pakar marketing Yuswohady menilai langkah Kastono cukup cerdas karena memanfaatkan pendekatan psikologis dalam pemasaran.
Yuswohady menjelaskan, salah satu faktor yang bekerja dalam strategi ini adalah warmth bias, yakni kecenderungan seseorang lebih nyaman berinteraksi dengan figur yang dianggap hangat dan mudah didekati.
"Pertama, dalam psikologi ada yang dinamakan warmth bias. Wanita dianggap lebih ramah, lebih santun, lebih tanggap, dan secara umum lebih mudah didekati. Apalagi jika penampilannya menarik," kata dia ketika dihubungi iDoPress, Rabu (21/5/2026).
Menurut dia, mayoritas pembeli hewan kurban adalah laki-laki. Karena itu, kehadiran SPG perempuan dapat menghadirkan unsur daya tarik tersendiri.
Selain itu, lapak hewan kurban umumnya identik dengan pedagang laki-laki. Kehadiran perempuan menjadi pembeda yang memberi warna baru di tengah suasana pasar kurban.
Efek warmth bias ini, kata Yuswohady, dapat meredam pertimbangan rasional calon pembeli, seperti soal negosiasi harga atau detail teknis hewan kurban.
"Itulah kekuatan SPG, mereka bisa mengalihkan detail teknis yang spesifik untuk mempercepat proses kesepakatan (closing) meskipun harga yang ditawarkan cukup tinggi," sambung Yuswo.
Dengan kata lain, sosok SPG yang hangat dan ramah bisa membuat calon pembeli merasa nyaman sehingga proses transaksi menjadi lebih mudah.
Selain warmth bias, Yuswohady menilai strategi ini juga memunculkan halo effect, yakni bias kognitif ketika kesan positif terhadap seseorang memengaruhi penilaian terhadap produk yang ditawarkan.
"Jika penampilannya bagus, maka produknya pun dianggap bagus. Karena penjualnya menarik, maka produknya ikut dianggap menarik," ucap Yuswono.
Ia menjelaskan, meski para SPG bukan perempuan muda, selama mereka komunikatif dan simpatik, pembeli akan melihat lapak tersebut sebagai usaha yang dikelola secara profesional.
Para SPG, menurut dia, berperan layaknya duta atau brand ambassador yang mampu meningkatkan kepercayaan calon pembeli.