Seni

Majalah Sobek, Buku Menguning: Potret Koleksi Perpustakaan Mini di Jakarta yang Terabaikan

Apr 24, 2026 IDOPRESS
Perpustakaan mini di taman Jakarta banyak terkunci dan tak terawat. Akses terbatas membuat minat baca pengunjung rendah.

JAKARTA, iDoPress - Keberadaan perpustakaan mini di sejumlah taman kota di Jakarta sejatinya dihadirkan sebagai sarana literasi yang mudah diakses masyarakat.

Di tengah ruang terbuka yang ramai aktivitas rekreasi, fasilitas ini diharapkan menjadi alternatif kegiatan yang lebih edukatif, mulai dari membaca santai hingga mengenalkan buku kepada anak-anak.

Namun, berdasarkan pengamatan iDoPress pada Kamis (23/4/2026), kondisi di lapangan menunjukkan bahwa fungsi tersebut belum berjalan optimal.

Sejumlah perpustakaan mini justru tampak terabaikan, baik dari sisi akses, perawatan, maupun pemanfaatannya oleh pengunjung.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Di bawah naungan atap modern Taman Tebet Eco Park, Jakarta Selatan lemari buku BOOKHIVE dilihat dari sisi samping, Kamis (23/4/2026).

Di Tebet Eco Park, misalnya, sebuah perpustakaan mini berdiri di sisi kiri pintu masuk utama.

Bentuknya cukup menarik, menyerupai kotak dengan jendela bulat di bagian depan yang memungkinkan pengunjung melihat isi di dalamnya. Secara visual, fasilitas ini terlihat dirancang untuk menarik perhatian.

Namun, saat didekati, lemari buku tersebut dalam kondisi terkunci. Dari balik kaca, tampak sejumlah buku tersusun di rak, tetapi kondisinya tidak terawat.

Beberapa buku hingga majalah terlihat kusut, menguning, dan tidak tertata rapi. Tidak ada informasi mengenai jam operasional atau mekanisme peminjaman yang dapat diakses pengunjung.

Selama pengamatan berlangsung, tidak terlihat adanya petugas yang secara khusus mengawasi atau merawat fasilitas tersebut.

Pengunjung yang melintas pun hanya melihat sekilas tanpa bisa mengakses isi perpustakaan.

Situasi serupa juga ditemukan di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Perpustakaan mini di taman ini juga dalam kondisi terkunci. Bahkan, kondisi koleksi buku di dalamnya tampak lebih memprihatinkan.

Sejumlah buku terlihat sobek, sementara majalah di bagian rak bawah tampak rusak parah, dengan halaman terlipat dan robek. Tidak terlihat adanya upaya perawatan maupun penataan ulang koleksi.

Di sekitar lokasi, aktivitas pengunjung lebih didominasi oleh kegiatan santai, berbincang, atau berolahraga ringan. Aktivitas membaca di sekitar perpustakaan mini nyaris tidak terlihat.

Di Taman Menteng, Jakarta Pusat, kondisi yang sedikit berbeda juga menunjukkan persoalan serupa.

Taman ini terpantau ramai dengan aktivitas warga, mulai dari keluarga hingga anak-anak yang bermain. Namun, keberadaan perpustakaan mini tidak menjadi pusat perhatian.

Sebagian besar pengunjung lebih memanfaatkan taman sebagai ruang rekreasi dan bersosialisasi. Perpustakaan mini tampak hadir, tetapi tidak benar-benar dimanfaatkan.

Dari ketiga lokasi tersebut, terlihat bahwa perpustakaan mini belum berfungsi maksimal sebagai sarana literasi publik. Selain kondisi fisik koleksi yang kurang terawat, akses yang terbatas akibat lemari yang terkunci menjadi kendala utama.

Koleksi buku yang tersedia juga tampak tidak diperbarui secara berkala. Sebagian buku terlihat usang dan tidak lagi relevan, sementara lainnya rusak akibat faktor usia maupun kemungkinan paparan cuaca.

Sejumlah pengunjung yang ditemui iDoPress menyampaikan pandangan mereka mengenai kondisi perpustakaan mini tersebut.

iDoPress/LIDIA PRATAMA FEBRIAN BOOKHIVE di Taman Suropati yang terkunci memperlihatkan tumpukan buku dan majalah, Kamis (23/4/2026).

Annes (28), seorang karyawan swasta yang berkunjung ke Tebet Eco Park, menilai konsep perpustakaan mini di taman merupakan ide yang baik.

Ia menyampaikan, taman yang menjadi ruang santai bagi masyarakat seharusnya dapat menghadirkan alternatif kegiatan selain menggunakan ponsel atau sekadar berbincang.

“Waktu saya lihat, saya sempat tertarik karena bentuknya lucu dan posisinya strategis. Tapi pas didekati ternyata dikunci, jadi agak kecewa,” ujar Annes saat ditemui iDoPress di Tebet Eco Park, Kamis.

Ia menilai bahwa jika konsepnya ditujukan untuk publik, akses seharusnya dibuka. Pengunjung, menurut dia, bisa membaca di tempat dan mengembalikan buku setelah selesai.

Annes juga menyoroti kondisi buku yang terlihat kusut dari luar. Ia menduga hal tersebut terjadi karena kurangnya perawatan atau jarangnya fasilitas tersebut dibuka.