
JAKARTA, iDoPress – Deretan pedagang emas di trotoar Pasar Senen, Jakarta Pusat, tidak lagi seramai dulu.
Jika dahulu puluhan lapak berdiri berjajar, kini jumlahnya menyusut, menyisakan segelintir pedagang yang masih bertahan di tengah risiko yang tak kecil.
Di balik kilau emas yang diperdagangkan, ada cerita kerugian yang perlahan membuat banyak pelaku usaha ini mundur.
“Dulu di sini penuh, bisa sampai 30 orang yang berjajar sampai ke arah rumah sakit. Sekarang tinggal sekitar 9 orang saja, karena banyak yang rugi,” ujar Limbong (45), pedagang emas pinggir jalan, Selasa (14/4/2026).
Pekerjaan sebagai pembeli emas rongsokan di trotoar tidak selalu menjanjikan keuntungan.
Justru, satu kesalahan dalam menilai barang bisa berujung kerugian besar.
Emas lapisan menjadi momok utama.
Secara kasat mata, perhiasan itu tampak meyakinkan, kuning mengilap, beratnya sesuai, dan bentuknya menyerupai emas asli.
Namun, saat diuji lebih dalam, bagian dalamnya ternyata bukan emas.
“Wah sering! Kebanyakan kena tipu emas lapisan. Luarnya emas, dalamnya bukan,” kata Limbong.
Kerugian yang ditimbulkan tidak kecil.
Poman, pedagang lainnya, mengaku pernah kehilangan hingga puluhan juta rupiah dalam satu transaksi.
“Pernah rugi sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang sampai Rp 20 juta,” ujarnya.
Bahkan, menurut Limbong, ada pedagang yang merugi hingga ratusan juta rupiah.
Transaksi di lapak jalanan sering terjadi cepat, tanpa identitas jelas dari penjual.