
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
KETIKA tim nasional Argentina yang dipimpin La Pulga alias Lionel Messi menaklukkan Tanjung Verde pada 3 Juli 2026 dan memastikan tiket ke babak delapan besar pada Piala Dunia 2026, jalan-jalan di Jayapura, Ternate, hingga Ambon berubah menjadi lautan manusia.
Pemandangan serupa ketika Belanda, Brasil, Inggris, Spanyol, Portugal berhasil masuk babak 16 besar.
Suara klakson berhasutan, bendera-bendera timnas itu dikibarkan hingga suara terompet bergemuruh merayakan pawai kemenangan tim jagoan masing-masing.
Sejak laga Piala Dunia 2026 dimulai, ratusan bahkan ribuan orang-orang di Indonesia Timur memenuhi lapangan terbuka melakukan nonton bersama.
Saling debat dan “cemooh” penuh candaan antar fans ala-ala pengamat sepak bola profesional.
Di saat yang sama, saya mengamati di banyak kota-kota besar di Pulau Jawa, euforia memang ada, namun cenderung berlangsung di kafe atau ruang-ruang privat.
Fenomena ini menarik dan memicu pertanyaan tentang mengapa ekspresi kegembiraan terhadap Piala Dunia nampak lebih menonjol di Indonesia Timur dibandingkan Barat?
Kiranya ini bukan semata soal kecintaan terhadap sepak bola antara Indonesia Timur maupun Barat, melainkan berkaitan dengan sejarah budaya sepak bola, struktur ruang publik, identitas komunitas, hingga cara masyarakat membangun solidaritas sosial.
Jika Anda pergi ke Indonesia Timur, lazim dijumpai lapangan sepak bola.
Dan ketika sore setelah pulang dari kebun, laut, atau kantor, lapangan sepak bola menjadi tujuan warga untuk bermain, menonton, atau sekedar bertemu kerabat sambil berinteraksi.
Sebagai anak yang lahir di Indonesia Timur, sepak bola apalagi Piala Dunia bukan hanya sekedar hiburan, olahraga biasa atau tontonan empat tahunan.
Tetapi ia memiliki posisi berbeda yang menggerakkan ruang-ruang sosial melalui nobar baik di lapangan terbuka, jalan-jalan utama, pelataran rumah ibadah, atau balai desa.
Antusiasme ini tumbuh dari tradisi yang telah berlangsung lama, diwariskan antargenerasi, dan dipelihara oleh komunitas-komunitas para fans sebagai medium membangun solidaritas dalam satu pengalaman emosional yang sama.
Fenomena ini relevan dengan konsep ruang publik yang diperkenalkan oleh Jurgen Habermas dalam “The Structural Transformation of the Public Sphere (1962)”.
Habermas memandang, ruang publik adalah arena perkumpulan warga secara setara untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun ikatan sosial. Konsep ini relevan untuk membaca euforia Piala Dunia di Indonesia Timur ketika lapangan kampung hingga ruas jalan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang mempertemukan warga lintas profesi dalam satu pengalaman bersama.