


JAKARTA, iDoPress - Jauh sebelum gerai es krim modern atau gelato menjamur di berbagai sudut kota, masyarakat Indonesia lebih dulu mengenal es kado sebagai jajanan dingin yang sering dijual berkeliling di lingkungan permukiman.
Dibungkus pakai kertas kado warna-warni dengan aneka rasa sederhana, makanan ini lahir dari proses panjang adaptasi budaya bukan sekadar makanan biasa.
Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI) Imam Setyobudi, mengatakan apabila dilihat dari perspektif sejarah dan antropologi ekonomi kuliner Indonesia, es kado juga sering disebut es potong merupakan produk hibrida dari demokratisasi es krim di era pascakolonial.
Berdasarkan catatan sejarah literatur seperti kisah hebohnya Indonesia saat es batu pertama tiba pada tahun 1846, es dan minuman dingin awalnya adalah komoditas super mewah yang hanya bisa dinikmati elite kolonial Belanda.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Es kado jajanan tradisional yang masih bertahan di Cilincing, Jakarta Utara. Rabu, (8/7/2025)
Ketika pabrik es batu mulai menjamur di Petojo, Jakarta, dan Semarang, Jawa Tengah, pada abad ke-20, masyarakat lokal atau kelas pekerja mulai meniru teknologi pembekuan ini.
"Substitusi bahan lokal es krim barat berbasis susu sapi yang mahal dimodifikasi oleh perajin industri rumahan seperti jaringan pedagang legendaris asal Klaten dan Solo menggunakan bahan yang melimpah di alam Nusantara, yaitu santan kelapa, gula asli, garam, dan tepung hunkwe atau maizena," tutur Budi dalam keterangan tertulisnya yang diterima iDoPress, Rabu (8/7/2026).
Singkat cerita, es kado mulai mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1980 hingga 1990, karena menjadi jajanan utama di depan sekolah dan pasar malam.
Harga dari es kado sendiri juga sangat merakyat, sebelum ekspansi kulkas rumahan dan modal es krim korporasi multinasional menguasai pasar pada pertengahan tahun 2000-an.
Selain itu, es kado banyak diminati karena pengemasannya yang unik karena menggunakan kertas bergambar.

iDoPress/ SHINTA DWI AYU Pur (50) pedagang es kado di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Rabu, (8/7/2026).
Imam mengatakan, penyebab utama es potong tersebut dibungkus dengan kertas kado, karena adanya keterbatasan teknologi cetak pada masa lalu.
Secara teknis, es kado dibuat dengan adonan cair yang dimasukkan ke dalam cetakan silinder atau balok logam panjang.
Lalu, digoyang-goyangkan di dalam tong berisi es batu dan garam kasar hingga membeku mirip seperti metode es goyang.
Dicetak dalam bentuk panjang sekitar 20 hingga 22 sentimeter (cm), es baru akan dipotong menggunakan pisau sesuai porsi pembelian konsumen.
"Sementara itu, bungkus kado merupakan solusi sanitasi ekonomis. Pada era 1980-an, kemasan plastik cetak khusus printing sachet sangat mahal dan hanya dimiliki oleh pabrik skala besar," jelas Imam.
Akhirnya, pedagang lokal memutar otak mencari pembungkus murah, fleksibel untuk membungkus es yang baru dipotong, tahan air ketika dilapisi plastik, dan menarik perhatian anak-anak.