Ai

Demokrasi Tanpa Kebijaksanaan di Saat Mayoritas Mengalahkan Kebenaran

Jun 23, 2026 IDOPRESS

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Ferril Dennys

DEMOKRASI sejatinya tidak hanya sekadar proses menghitung suara.

Sejak kelahirannya, sistem ini dibangun di atas landasan bahwa kebebasan warga negara harus sejalan dengan rasionalitas publik, etika politik, dan penghormatan terhadap kebenaran.

Dalam tradisi konstitusional modern, legitimasi demokrasi tidak hanya ditentukan oleh suara mayoritas, tetapi juga oleh kualitas nalar publik yang menopangnya.

Dengan begitu, demokrasi merupakan pertemuan antara kebebasan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.

Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap demokrasi secara mendasar.

Ruang publik kini dibanjiri arus informasi yang mengalir jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat dalam melakukan refleksi kritis.

Popularitas mulai menyingkirkan kualitas argumentasi, viralitas mengalahkan validitas, dan algoritma media sosial turut menentukan apa yang dianggap penting oleh masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, demokrasi menghadapi ancaman yang lebih halus dibandingkan otoritarianisme klasik: keputusan publik tetap lahir melalui prosedur demokratis, namun kerap kehilangan landasan kebijaksanaan.

Akibatnya, demokrasi memang tetap berjalan secara prosedural, tetapi perlahan kehilangan roh intelektualnya.

Fenomena ini menuntut pemahaman baru bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur elektoral, melainkan peradaban berpikir.

Hakikat demokrasi akan pudar jika masyarakat tidak lagi mampu membedakan antara kebenaran dan popularitas, pengetahuan dan propaganda, serta argumentasi yang bermakna dengan sensasi sesaat.

Ketika Algoritma Menjadi Konstitusi Tak Tertulis Demokrasi

Di abad ke-21, kekuasaan politik tidak lagi hanya berada di tangan lembaga negara.

Teknologi melalui algoritma digital memiliki kemampuan luar biasa dalam membentuk persepsi masyarakat tentang apa yang benar, siapa yang patut dipercaya, dan isu apa yang dianggap penting.

Fenomena ini menandai munculnya kekuasaan baru yang bekerja secara halus, bukan melalui paksaan, melainkan lewat pengelolaan perhatian (attention governance).

Penguasaan atas perhatian publik melalui kemampuan algoritma digital dapat menentukan arah opini masyarakat.

Dalam konteks ini, algoritma berkembang menjadi semacam “konstitusi tak tertulis” yang mengatur lalu lintas opini publik.

Masyarakat tidak lagi memilih informasi secara bebas, melainkan diarahkan oleh sistem digital yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan kualitas pengetahuan.

Tidak mengherankan apabila informasi yang membangkitkan emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau fanatisme mendapat ruang lebih luas melalui algoritma dibandingkan informasi yang mendorong masyarakat berpikir secara tenang dan mendalam.

Akibatnya, ruang demokrasi lebih dipenuhi emosi, sensasi, dan polarisasi daripada dialog rasional.