
JAKARTA, iDoPress - Menjadi pusat perekonomian Indonesia bukan berarti mudah untuk mencari pekerjaan formal di Jakarta.
Mereka yang jauh-jauh merantau ke Jakarta berharap bisa bekerja di kantoran, kerap kali harus menelan pil pahit dan berujung menggantungkan nasib di sudut-sudut trotoar sebagai pedagang kaki lima (PKL).
Untuk sebagian orang, menjadi PKL merupakan cara paling mudah untuk mencari uang demi bertahan hidup di Jakarta.
Imbasnya, jumlah PKL di Jakarta semakin banyak, bahkan menutupi sebagian besar trotoar di Jakarta yang seharusnya diperuntukkan untuk para pejalan kaki.
Senior Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, menilai fenomena menjamurnya PKL disebabkan karena semakin sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal Jakarta.
"Saat sektor formal semakin sulit, Jakarta sebagai pusat jasa bukan lagi industri menuntut kualifikasi yang tinggi," ucap Tauhid ketika dihubungi iDoPress, Senin (22/6/2026).
Di sisi lain, masyarakat kelas menengah ke bawah sulit untuk mengakses kualifikasi yang dibutuhkan sektor formal tersebut.
Imbasnya, mereka akan kesulitan mendapat pekerjaan dan mengubah kondisi perekonomian keluarga.
Faktor lain yang menyebabkan menjamurnya PKL di Jakarta, karena maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa tahun ke belakang.
Tauhid bilang, banyak warga Jakarta yang sebenarnya memiliki kualifikasi yang bagus, tetapi tidak terserap oleh lapangan kerja yang tersedia, sehingga akhirnya lari ke sektor informal, termasuk menjadi PKL.
Di sisi lain, menjamurnya PKL merupakan fenomena yang memiliki sisi positif dan negatif untuk kota Jakarta.
Sisi positifnya adalah sektor informal seperti PKL menjadi penyangga sementara untuk sumber pendapatan warga agar bisa bertahan hidup setelah kehilangan pekerjaan formal.
Namun sisi negatifnya adalah banyak orang yang merasa tidak punya pilihan lain, sehingga telanjur nyaman menjadi PKL dan terus menyasar fasilitas publik yang lebih strategis untuk berjualan.
Persoalan semakin parah karena jumlah PKL di Jakarta yang semakin membeludak, sehingga trotoar-trotoar yang sudah dibangun sedemikian rupa menjadi sesak, bahkan sulit untuk dilintasi para pejalan kaki.
Terus dijajahnya trotoar oleh para PKL, menjadi dilema tersendiri untuk penataan Jakarta menjadi kota global.