
JAKARTA, iDoPress - Sejumlah nelayan di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, mengaku kerap mengumpulkan dana secara swadaya untuk mengeruk muara yang mengalami pendangkalan.
Langkah itu dilakukan karena sedimentasi dan penumpukan sampah di kawasan tersebut terus berulang dan mengganggu jalur keluar-masuk kapal nelayan.
Ano (45), salah seorang nelayan di Kali Adem, mengatakan pengumpulan dana dilakukan secara sukarela oleh para nelayan dan warga setempat.
"Cuma kadang-kadang ngeruk nih, patungan sama nelayan ini," kata Ano saat ditemui iDoPress di Kali Adem, Muara Angke, Senin (8/6/2026).
Menurut dia, besaran iuran yang dibayarkan tidak ditentukan secara pasti dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing nelayan.
"Enggak dipatok sih, istilahnya seikhlasnya. Ada yang Rp 50.000, intinya sih yang kapal kecil Rp 10.000, yang gede ya Rp 20.000. Cuma enggak dipatok sih," ungkap Ano.
Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk menyewa alat berat guna mengeruk area muara yang mengalami pendangkalan.
Ano menuturkan, pengerukan perlu dilakukan karena sedimentasi dan tumpukan sampah terus muncul di kawasan muara.
"Soalnya kalau enggak dikeruk-kerukin ya bisa numpuk begitu," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai upaya swadaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Karena itu, Ano berharap pemerintah dapat melakukan pengerukan secara rutin agar masalah pendangkalan tidak terus berulang.
Keluhan serupa disampaikan Yudi (bukan nama sebenarnya), nelayan lainnya di Kali Adem.
Menurut Yudi, pendangkalan muara menjadi persoalan yang terus berulang, terutama saat musim hujan ketika arus sungai membawa lumpur dan sampah dari hulu.
"Soalnya kalau air kalinya kencang, musim hujan, Bogor (kiriman air) kencang, cepet dangkalnya. Karena dari atas bawa lumpur. Lumpur ya sampah," kata Yudi saat ditemui iDoPress, Senin.
Ia menilai pengerukan harus dilakukan secara rutin agar sedimentasi tidak menumpuk dan mengganggu jalur pelayaran nelayan.