
TANGERANG, iDoPress - Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) gembir program langganan hemat dihapus karena selama ini hanya menguntungkan pelanggan, yang menawarkan tarif perjalanan lebih murah.
Salah satunya pengemudi ojek online (ojol), Cecep (45) menyebut tarif murah membuat para pengemudi mengalami pendapatan yang tidak sebanding pendapatan pengemudi yang biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap hari.
“Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres,” kata Cecep saat ditemui di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu (20/5/2026).
Cecep berharap penghentian layanan Hemat dapat membuat penghasilan pengemudi lebih layak.
“Putusan ini bisa menguntungkan driver, terutama dari sisi pendapatan. Dengan tidak adanya tarif yang terlalu murah, diharapkan order yang masuk memiliki nilai yang lebih layak bagi pengemudi,” ujar Cecep.
Namun, menurut dia, penghapusan program tersebut tidak terlalu berdampak pada dirinya. Sebab ia lebih memilih mengambil order reguler.
"Saya lebih nyaman ambil order biasa, ya sesuai aja sama kondisi kerja dan penghasilan yang saya harapkan,” ujar Cecep.
Hal senada juga disampaikan driver ojol lainnya, Anjas (29). Ia menilai program Hemat selama ini lebih menguntungkan pelanggan karena tarif lebih murah, tetapi membebani pengemudi.
Menurut dia, driver yang mengikuti program tersebut harus membayar biaya tertentu kepada aplikator agar bisa mendapatkan order layanan Hemat.
“Kalau hemat itu berbayar. Kita bayar buat masuk ke Bike Hemat, ke argo-argo hemat,” kata Anjas.
Adapun biaya yang dibayarkan pengemudi bergantung pada jumlah order yang diterima dalam sehari.
“Kalau di Grab tergantung orderan. Misalnya satu sampai dua order itu Rp 3.000, dua sampai empat order Rp 8.500, terus maksimal sehari bisa sampai Rp 20.000,” jelas dia.
Walaupun begitu, ia mengaku pendapatannya ikut tergerus karena adanya potongan biaya program tersebut.
“Harusnya bisa buat beli bensin, harusnya bisa buat beli makan, malah jadi kepotong ke aplikasi karena program hemat,” kata dia.
Meski mendukung penghapusan layanan Hemat, Anjas mengaku khawatir pelanggan akan beralih ke platform lain jika tarif perjalanan menjadi lebih mahal.